Penyuluh Menata Busana ke Pura dan Sikap Sembahyang

Penyuluh  Menata Busana ke Pura dan Sikap Sembahyang Penyuluhan di Lingkungan Teba, Kelurahan Jimbaran

(Mangupura, 5-2-2017)  Penyuluh Kabupaten Badung dalam pelaksanaan tugas menggunakan sistem  jemput bola dan menyesuaikan dengan situasi kondisi masyarakat yang akan diberikan penyuluhan, lebih-lebih di daerah pariwisata tentu mobilitas penduduknya relatif tinggi. Hal ini membuat penyuluh harus siap bekerja pada hari libur dan diluar jam kerja, seperti yang dilaksanakan oleh penyuluh Kuta Selatan (I Gede Manik) dalam melaksanakan penyuluhan pada Hari Minggu pukul 16.00 Wita di Lingkungan Teba Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan. Dalam penyuluhan tersebut dihadiri oleh Kepala Lingkungan setempat (I Wayan Arnawa), Ketua PKK serta Penyuluh Agama Hindu Non PNS, dengan topik Tata Cara Berbusana ke pura lan Tata Titi Kramaning Sembah. Busana adat Bali sudah tercitra sebagai busana dalam rangka kegiatan beragama dan kegiatan adat Bali, Apababila menggunakan busana adat Bali sudah muncul pengaruh psikologis yang religius Hindu dan adat Bali. Kesan relegius inilah yang umumnya dirasakan oleh orang Bali yang beragama Hindu kalau memakai busana adat Bali. Karena itulah, Masyarakat Bali yang beragama Hindu pada umumnya tidak mau sembarangan berbusana adat. Apabila memakai busana sembahyang ke pura. Citra positif yang dimunculkan oleh busana adat Bali ini seyoginya dapat dijaga. Dalam Piagam Campuan tahun 1961 memang dibolehkan juga umat Hindu Bali bersembahyang ke  pura tidak menggunakan pakaian adat Bali, dapat saja mereka sembahyang ke pura menggunakan busana dinasnya. Misalnya, bagi militer dapat saja sembahyang memakai pakaian dinas militer, apalagi saat tengah berdinas di kantornya. Maksud Piagam tersebut tentunya dengan alasan bahwa sembahyang pada Hyang Widhi merupakan hal yang pertama yang harus diprioritaskan dan hal kedua adalah busana. Jangan karena busana umat batal bersembahyang. Yang diutamakan dalam berbusana sembahyang itu adalah sopan, yang wajar dan tidak berlebihan, dan tetap memelihara tradisi yang nyata-nyata sangat mulia, seperti busana adat Bali khususnya pakaian adat ke pura. Dengan penyuluhan tersebut ibu-ibu PKK saat ke pura dapat menggunakan pakaian yang sopan, bersih serta sesuai dengan etika-etika. Begitu pula saat melaksanakan pamuspan (Tri Sandya dan kramaning sembah) dengan menggunakan sikap sempurna sehingga dapat sembahyang dengan nyaman dan lebih berkosentrasi. (Penyuluh)

 

 

 

 

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar