Agama Hindu Flexible bukan Praktis Dharma Wecana “Sradha Bhakti ring Leluhur” Pura Hyang Panca Kertih, Legian Kelod, Legian, Kuta

Agama Hindu Flexible bukan Praktis Dharma Wecana “Sradha Bhakti ring Leluhur” Pura Hyang Panca Kertih, Legian Kelod, Legian, Kuta

(Mangupura, 05 Februari 2017) Pengurus Pasemetonan di Pura Hyang Panca Kerthi Banjar Legian Kelod, Desa Adat Legian, Kecamatan Kuta menggelar acara Dharma Wecana dalam rangka pelaksanaan Piodalan di Pura tersebut. Minggu (05/02) Kepala Kantor Kementerian  Agama Kabupaten Badung (I Nyoman Arya,S.Ag.,M.Pd.H) dalam Dharma Wecananya menyampaikan upacara agama di bali kini cenderung praktis. Sebenarnya Agama Hindu dapat dilakukan dengan flexible dengan pakem-pakem yang telah ada di setiap tingkatannya.

Beliau menghimbau agar Pasemetonan disini dapat menyusun sebuah pakem (purana) yang diperuntukkan agar seluruh warga dapat mengingat apa yang mesti dilakukan dalam setiap karya / odalan. Pembuatan pakem ini harus mengacu pada konspe dasar beragama Hindu, yaitu: Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastuti. Tidak kalah pentingnya bagaimana setiap semeton yang bersembahyang di pura tersebut untuk terus diingatkan tentang etika dalam bersembahyang di pura. Acara yang dihadiri oleh 3 orang jro mangku, penglingsir pasemetonan, kelihan banjar Legian kelod serta ratusan umat dari pasemetonan Hyang Panca Kertih, terasa menarik karena peserta yang hadir begitu antusias. Materi serta lelucon yang disampaikan Kepala Kantor Kementerian  Agama Kab. Badung sangat mengena dalam kehidupan sehari-hari warga di banjar legian kelod.

Menariknya Dharma Wecana yang diadakan Pasemetonan dengan 90 KK ini juga nampak pada jumlah penanya dan pertanyaan yang ingin disampaikan kepada narasumber. Salah satu penanya, Wayan Kondra menanyakan tentang pelaksanaan tumpek landep yang semestinya dilakuakan umat Hindu. Kepala Kantor Agama menerangkan bahwa,”pelaksanaan tumpek landep dimaknai sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas apa yang telah didapatkan dan kedepannya akan semakin baik dan tajam dalam keilmuan yang dimiliki, mempersonifikasikan benda yang menjadi sarana pendukung kegiatan selama ini”. Mempersonifikasikan sesuatu bukan berarti medewakan benda tersebut. Upakara dan doa yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi dengan manifestasi Sang Hyang Pasupati tetap dilakukan di tempat suci seperti: Sanggah, Merajan maupun pura namun ayabannya dapat dilakukan di senjata maupun kendaraan bermotor ungkapnya.

Bapak Gunawan dalam pertanyaannya menyinggung tentang patutkah sembahyang di depan mayat orang tua yang telah meninggal. Kepala Kantor Agama Menjelaskan,”tidak boleh sembahyang di depan mayat Karena akan menyebabkan cuntaka pada desa yang bersangkutan”. Namun jika mayat telah di urip dengan meletakkan kwangen di setiap persendiannya maka tubuh tersebut dapat dihormati dengan sembahyang. Setelah itu dapat dihantarkan menuju setra dan diupacarai disana tutupnya. Setelah mendengar penjelasan tersebut warga merasa puas dan mengharapkan kegiatan seperti ini dapat dilakuakn secara berkesinambungan.

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar