Lomba Membuat Pejati Tingkat SMA/K Kankemenag Kab. Badung

Lomba Membuat Pejati Tingkat SMA/K Kankemenag Kab. Badung (Mangupura, 23 Mei 2018)Seksi Pendidikan Agama Hindu pada kantor Kementerian Agama Kab.Badung mengadakan lomba membuat pejati tingkat SMA/K.

(Mangupura, 23 Mei 2018). Di Bali mayoritas warganya adalah umat Hindu yang adat, budaya dan ajaran agama sangat erat, saling berkaitan dan saling melengkapi. Sehingga bisa dikatakan adat, budaya dan agama menjadi satu kesatuan. Khususnya di Bali sendiri ada yang dikenal namanya banten.  Banten adalah persembahan dan sarana bagi umat Hindu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Banten juga merupakan wujud rasa terima kasih, cinta dan bakti pada beliau karena telah dilimpahi wara nugraha-Nya. Secara mendasar dalam agama Hindu banten juga dapat dikatakan sebagai bahasa agama.  Salah satunya yakni banten pejati yang merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Panca Yadnya. Hal tersebut menggugah Seksi Pendidikan Agama Hindu pada kantor Kementerian Agama Kab.Badung untuk mengadakan lomba membuat pejati tingkat SMA/K. Pembinaan yang dilaksanakan pada hari ini melibatkan 30 peserta tingkat SMA/K se-kabupaten Badung di aula kantor Kemenag Kab.Badung dengan tujuan memberikan pemahaman kepada peserta bagaimana membuat pejati yang sesuai dresta dan sastra sekaligus memahami makna dari pejati itu sendiri. 

Kepala Kantor Kemenag Kab.Badung I Gusti  Agung Gede Manguningrat sangat mengapresiasi sekolah-sekolah yang ada di kabupaten Badung yang mengikutsertakan anak didiknya untuk mengikuti lomba ini. Ia berharap dengan seringnya dilaksanakan lomba semacam ini, para generasi muda semakin paham untuk meneruskan kegiatan yang memberikan manfaat bagi pemberdayaan masyarakat termasuk dibidang rohani dengan pembangunan mental spiritual harus berimbang dengan pembangunan fisik. Tampil sebagai juri Kepala Bidang Sejarah Cagar Budaya Kab.Badung (Ida Bagus Gede Arjana, SE,M.Si), Pengawas Penda Hindu (I Gusti Agung Ayu Manik, S.Ag) serta Penyuluh Madya (I Gusti Agung Istri Purwati, S.Sos,M.Fil.H).

            Salah seorang peserta lomba Ni Luh Gede Anjung Anjani mengaku senang dengan adanya lomba tersebut karena dirinya menjadi paham makna banten yang selama ini sudah biasa dibuat. 

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar