Berita

Ka.KanKemenag KabBadung Memaknai Galungan dan Kuningan di Karangenjung

109 dilihat

Mangupura,Rabu,12-4-2017, Dalam rangka peningkatan pemahaman umat tentang  rangkaian perayaan hari suci Galungan dan Kuningan  Ka.Kankemenag Badung ( I Nyoman Arya S.Ag,M.Pd.H)  memberikan  Dharma Wacana di desa Karangenjung  dengan tema memaknai hari raya Galungan dan Kuningan. Pada kesempatan Itu, Ka.Kankemenag menjelaskan bahwa  dalam menyambut kemenangan Dharma melawan Adharma hendaknya  kita meningkatkan pemahaman dalam melaksanakan upacara agama bukan sekedar evoria, ikut-ikutan atau ingin pamer, tetapi berdasarkan rasa bakti yang tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi. Rangkaian Galungan dan Kuningan mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan Tuhan, dengan Sesama dan dengan alam semesta/lingkungan. Seperti pada tumpek Bubuh dan tumpek kandang, kita mendoakan dan menjaga keharmonisan hubungan dengan alam dan binatang yang ada disekitar kita, kemudian tumpek landep bertujuan untuk menajamkan pikiran kita serta mendoakan benda-benda yang mendukung aktifitas kita . demikian pula pada Sugihan Jawa  kita menyucikan Buana Agung  dan pada Sugihan Bali kita menyucikan Buana Alit.

            Ketika semua sudah disucikan maka kesiapan untuk menyambut godaan sang kala Tiga yang dimulai sejak hari Minggu Paing Galungan,diawali oleh Sang Bhuta Galungan, keesokannya sang Bhuta Dunggulan dan pada Penampahan Galungan yang berkuasa adalah sang Bhuta Amangkurat,

Sering masyarakat keliru dalam pemasangan penjor pada hari Minggu, padahal hari tersebut merupakan awal kedatangan Sang kala Tiga sedangkan tujuan pemasangan penjor adalah untuk menyambut kemenangan melawan Sang kala Tiga, dengan demikian sebaiknya pemasangan penjor dilaksanakan pada hari selasa sore, dilanjutkan dengan upacara penyucian dengan sarana Byakaon Prayascita, sehingga pada hari raya Galungan kita benar-benar merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma , di hari raya Kuningan terdapat sarana tamyang kolem dan endongan. Endongan sebagai tempat makanan dan hasil bumi, sedangkan tamiang untuk perlindungan atau penangkal dari hal-hal yang tidak baik, demikian juga kolem atau ter sebagai simbol senjata dan perlindungan, maknanya bahwa bhoga yang diperoleh hendaknya secara halal melalui ketajaman pikiran dan kebijaksanaan.

            Rangkaian Galungan Kuningan berakhir hingga Bhuda Kliwon Pegatwakan. Pada intinya makna kemenangan Dharma adalah apabila kita bisa bahagia, bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Pada acara tersebut Bendesa adat sangat berterima kasih atas kedatangan Bapak Ka.Kankemenag Kab.Badung,  dan mereka akan mengalokasikan waktu khusus kepada sarati dan pemangku yang menjadi panutan masyarakat dalam melaksanakan upacara . (Pokjaluh,Gungti)