Pengumuman Baru
  • 07:00 *Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama RI : Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tangungjawab, Keteladanan*
  • 07:00 *Selamat Hari Raya Suci Nyepi Tahun Caka 1939*

Kemenag Tabanan Tingkatkan Kualitas Para Pemangku dan Serati Banten di Kecamatan Kerambitan

Kemenag Tabanan Tingkatkan Kualitas Para Pemangku dan Serati Banten di Kecamatan Kerambitan Umat Hindu pada dasarnya tidak bisa terlepas dari proses pelaksanaan yadnya. Beryadnya merupakan perbuatan yang sangat mulia. Yadnya dalam hidup berupa tindakan baik dalam bentuk pikiran, perkataan maupun perbuatan dapat dilakukan oleh setiap orang. Namun


(Kankemenag, Kab. Tabanan) Umat Hindu pada dasarnya tidak bisa terlepas dari proses pelaksanaan yadnya. Beryadnya merupakan perbuatan yang sangat mulia. Yadnya dalam hidup berupa tindakan baik dalam bentuk pikiran, perkataan maupun perbuatan dapat dilakukan oleh setiap orang. Namun, dalam kehidupan beragama, yadnya yang sangat menonjol dilakukan adalah yadnya dalam ibadah berupa persembahan dalam bentuk ritual-ritual keagamaan. Secara teknis, pelaksanaan yadnya tersebut  tentunya memerlukan  sosok pemimpin spiritual yang memiliki suatu pemahaman holistik tentang agama, baik secara teori maupun praktek. Salah satunya adalah para Pemangku/Pinandita dan Serati Banten. Untuk meningkatkan kualitas Pemangku/Pinandita dan Serati banten dalam melayani umat, Seksi Urusan Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Tabanan melaksanakan kegiatan pembinaan Pemangku dan Serati Banten di Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan pada hari Jumat, Tanggal 3 Agustus 2018 dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang. Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut berasal dari unsur internal dan eksternal Kemenag Tabanan yakni Drs. I Wayan Wirta, M.Fil.H (PLT. Kepala Kantor Kemenag Kab. Tabanan) yang membawakan materi “Tri Hita Karana Dalam Acara Agama Hindu”, Ida Pedanda Gede Made Putrayoga yang membawakan materi “Sesana Kepemangkuan Lan Serati Banten”, I Wayan Balik Tamba Utama, S.Ag.,M.Pd.H (Korluh Agama Hindu Kemenag Kab. Tabanan) yang membawakan materi “Spirit Agama Hindu Dalam Desa Pakraman”. Materi yang disampaikan oleh para narasumber pada intinya menjelaskan bahwa masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam tetap berlandaskan ajaran-ajaran Agama Hindu dan dalam pelaksanaan upacara keagamaan berpatokan pada Panca Yadnya. Tri Hita Karana dalam Acara Agama Hindu merupakan Upaya Manusia untuk membangun keharmonisan  hubungan dengan Tuhan Melalui “ Bhakti “, dengan sesama melalui  “ Punia “ dengan alam lingkungan  melalui “ Asih ”. Tri Hita Karana dapat divisualisasikan dalam wujud simbol-simbol suci dalam bentuk Sarana Upacara seperti Banten, ada dalam wujud tempat pemujaan dan  ada dalam wujud kelembagaan sosial  religius. Dalam kehidupan umat Hindu di Bali dikenal ada tiga unsur utama yang berperan dalam pelaksanaan suatu yadnya. Yajamana, adalah pelaksana atau pemilik Yadnya; Pancagra atau sang widya, adalah para tukang (Serati Banten) yang berperanan dalam menyiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan dalam bentuk upakara; Sadhaka, adalah para rohaniawan yang bertugas mengantarkan yadnya teersebut dengan puja, seha, mantra dan wedanya. Maka dari itu, dengan tugas mulia yang diembannya, para rohaniawan khususnya para Pemangku dan Serati Banten harus tetap menjaga kesuciannya secara sekala dan niskala dengan jalan berfikir, berkata, dan bertingkah laku yang baik sesuai dengan sesananya. Dalam hal praktik, para Pinandita dan Serati Banten tentunya harus mengetahui secara mendetail tentang penggunaan sarana upakara, fungsi, serta maknanya dalam sebuah ritual keagamaan (Aryatnaya & Sudiana).      

 

 

 

 

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar