BIJAKSANA DALAM MEMILIH PERGAULAN

BIJAKSANA DALAM MEMILIH PERGAULAN

Oleh I Gusti Ayu Laksmi Dewi, S.Ag

Penyuluh Agama Hindu Ahli Madya, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar

 

Setiap hari kita sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi bersama orang lain, tanpa ada orang lain kita bukanlah siapa-siapa yang dapat melakukan berbagai aktivitas kehidupan. Dari semenjak kita kecil sampai sudah berumur tua tetaplah kita membutuhkan orang lain sebagai tempat berbagi. Entah secara intensif kita membangun komunikasi atau hanya sekedarnya saja dalam berkomunikasi. Dalam berteman atau bergaul kita harus pandai atau pintar memilih nya apalagi sekarang lagi ngetrend nya teman nikung teman atau teman makan teman tapi kadang meskipun kita sudah berusaha memilih yang terbaik namun kenyataan teman atau sahabat yang paling kita percaya malah menikam kita dari belakang.

Dalam Kitab Sarasamuccaya sloka 300 dinyatakan :

vastramambhastilan bhumin gadho vasayate yatha,

puspanamadhivasena tatha samsargaja gunah.

Artinya :

Inilah tentang pergaulan; lekas benar pergaulan itu memindahkan sifat yang baik kepada orang yang selalu bergaul dengan orang yang bersifat utama; buktinya baunya bunga beralih kepada kain, air, minyak dan tanah, disebabkan persentuhannya dengan bunga itu.

 

Dari kitab sarasamusscaya tersebut di katakan bahwa dengan bergaul maka segala sifat atau karakter yang ada dalam lingkungan pergaulan kita akan cepat sekali mengikuti sifat atau karakter yang ada di dalamnya. Apabila kita berada di dalam pergaulan dengan orang-orang pintar atau orang-orang sadhu sudah pasti kita akan menjadi pintar atau sadhu juga. Apabila di dalam pergaulan tersebut kita memiliki sahabat hendaknya di jaga tali persahabatan tersebut dengan baik. Ada sebuah cerita  persahabatan yang sangat terkenal yaitu persahabatan antara Krisna dan Sudama yang terjadi pada zaman dwapara yuga. Sudama adalah seorang Brahmana miskin yang memiliki seorang istri dan anak. Karena miskinnya ia tidak sanggup untuk memberi makan kepada keluarganya dengan layak. Suatu saat istrinya menangis dan berkata kepada suaminya, "suamiku tidak apa-apa kita tidak makan tapi bagaimana dengan anak-anak"?sambil mengusap air matanya. Mendengar hal tersebut Sudama lalu berkata "apa yang bisa saya lakukan? kita tidak memiliki siapa-siapa untuk di minta tolong". Lalu istrinya berkata " suamiku kamu sering bercerita tentang Krisna sahabat yang baik, sahabat yang akan selalu membantu di saat susah mengapa kamu tidak pergi ke dwaraka dan menemui Krisna? Sudama lalu menyetujui perkataan dari istrinya tersebut untuk menemui sahabatnya Krisna yang berada di kota dwaraka, lalu ia berkata apa yang harus saya bawa sekedar bingkisan kepada sahabat saya tersebut? Istri Sudama lalu meminta beberapa makanan ringan dan beras dari tetangga mereka. Dia menaruh makanan dalam sepotong kain robek & Sudama mengambil bungkusan itu lalu berangkat ke Dwaraka.  Sesampai di kota dwaraka, Sudama sangat kagum melihat keindahan dan kemegahan dari kota itu. Sesampai di depan istana , para penjaga istana bertanya, "Mengapa kau datang ke sini?" Sudama menjawab, "Saya ingin bertemu Krishna, Dia adalah teman ku. Pergi & katakan padanya bahwa Sudama telah datang untuk bertemu dengannya." 
Penjaga itu tertawa saat melihat pakaian Sudama. Namun, ia dengan ragu-ragu pergi & menyampaikan kepada Krishna tentang kedatangan Sudama. Mendengar nama Sudama ini, Krishna segera berdiri & berlari menyambutnya. Semua orang memandang dengan heran saat melihat seorang Raja besar berlari bertelanjang kaki untuk bertemu teman yang berpenampilan buruk.

Lalu Krishna mengajak Sudama ke istana. Mereka ingat masa kanak-kanak mereka di pasramani. Melihat kekayaan Krishna, Sudama merasa malu dengan makanan ringan dan beras yang ia bawa & mencoba untuk menyembunyikan bungkusan itu tapi Krishna menyambarnya dari dia. Sambil menikmati camilan, Krishna berkata, "aku tidak pernah merasakan makanan manisnya dan lezat seperti ini."

Kemudian, mereka duduk sambil menyantap makan yang disajikan di piring emas. Sudama merasa sedih karena ia teringat dengan anak-anaknya yang kelaparan di rumah. Dia tinggal di istana selama beberapa hari tapi ia tidak bisa menikmati apa yang disajikan oleh Krisna. Lalu sudama bersiap-siap untuk kembali pulang. Krishna memeluk Sudama & mengantarnya saat ia mengucapkan selamat berpisah.

Dalam perjalanan kembali, Sudama bertanya-tanya, "Apa yang harus saya katakan ketika istriku bertanya apa yang aku bawa?" Ketika Sudama dekat rumahnya, ia tidak menemukan gubuknya! Sebaliknya, istrinya keluar dari istana megah & mengenakan pakaian elegan. Lalu dia berkata kepada Sudama, "Lihatlah kekuatan Krishna, kami telah menyingkirkan kemiskinan kita.  Krishna telah menghilangkan semua penderitaan kita." Sudama teringat dengan persahabatan Krishna yang murni & matanya dipenuhi air mata.

Demikian cerita tentang persahabatan, sebaiknya seorang sahabat selalu ada dan mau membantu di saat  sahabatnya itu mengalami kesusahan. Namun apabila kalau kita salah memilih pergaulan dan berteman dengan pemabuk, penjudi atau malas bekerja sudah pasti lambat laun kita akan seperti itu juga.

Seperti yang tertuang dalam Kitab Sarasamuccaya Sloka 326 :

asantyagat papakrtamapapan tulyo dosah sprsate

misrabhavat, suskenardram dahyate micrabhavat

tasmad papaih saha sandhin na kuryat.

Artinya :

Sebab orang itu jika bergaul secara berkawan dengan orang yang jahat perbuatannya, tak dapat tidak akan ketularan oleh noda perbuatan jahat, sebagai
misalnya pohon kayu yang hidup akan turut terbakar, jika bercampur menjadi satu dengan kayu kering, oleh karena itu sekali-kali jangan berkawan apalagi bersahabat dengan orang yang jahat perbuatannya.

 

Lalu ditekankan lagi dalam kitab suci Veda, Rg.Veda X.53.8 :

Asmanvati riyate sam rabhadhavam,

Uttisthata pra tarata sakhyah,

Atra jahama ye asan asevah,

Sivan vayam uttaremabhi vajan

Artinya:

Wahai teman-teman, dunia yang penuh dosa dan penuh duka ini berlalu bagaikan sebuah sungai yang alirannya dirintangi oleh batu besar (yang dimakan oleh arus air) yang berat. Tekunlah, bangkitlah, dan sebrangilah ia. Tinggalkan persahabatan dengan orang-orang tercela. Sebrangilah sungai kehidupan untuk pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran.

 

Ada cerita tentang seorang pengembara yang tersesat ke dalam hutan, setelah lama berjalan pengembara tersebut menemukan sebuah gubuk karena sudah kelelahan dan merasa sangat haus maka pertapa tersebut berdiri di depan gubuk tersebut sambil berkata " Swastiastu, apakah ada penghuninya?apa boleh saya meminta seteguk air untuk menghilangkan rasa dahaga saya? lalu terdengarlah suara " kejar orang itu dan tangkap untuk kita jadikan tahanan" mendengar suara tersebut sang pengembara lalu segera berlari keluar dari gubuk tersebut namun suara tersebut terus menerus berulang di ucapkan lalu karena penasaran sang pengembara berusaha mencari asal suara tersebut yang tenyata adalah seekor burung beo yang berada di dalam sangkar. Setelah itu sang pengembara melanjutkan perjalanan dan sampailah ke gubuk yang lain, pengembara tersebut lalu berkata " Swastiastu, apakah ada penghuninya?apa boleh saya meminta seteguk air untuk menghilangkan rasa dahaga saya? dan terdengar ada yang menjawab " Swastiastu, silahkan mampir ke gubuk kami. Terimalah setetes air untuk menghilangkan dahaga dan beristirahatlah untuk menghilangkan rasa lelah yang ada", mendengar suara tersebut sang pengembara menjadi tertegun berbeda sekali kalimat yang di keluarkan dari tempat sebelumnya. Tiba-tiba muncullah seorang pertapa, yang mempersilahkan pengembara tersebut untuk mampir sekedar beristirahat dan melepaskan dahaga. Lalu pengembara tersebut bertanya dengan pertapa tersebut, tadi saat pertama kali saya tiba di sini terdengar ada yang menyapa saya dengan begitu sopannya siapakah itu? lalu sang pertapa mengajak pengembara dari mana asal suara itu yang ternyata adalah seekor burung beo. Burung beo ini setiap hari mendengarkan percakapan kami, kami selalu menyapa orang dengan ramah jadinya burung tersebut juga sudah terbiasa mendengarkan hal-hal yang baik dan benar. Lalu pengembara itu bertanya, sebelum saya tiba di sini saya juga bertemu dengan seekor burung beo. Beo tersebut mengeluarkan kata-kata yang kasar, apakah pertapa tau siapakah yang memelihara burung tersebut? sang pertapa lalu menjawab bahwa yang memelihara burung tersebut adalah seorang pemburu yang selalu berkata kasar.

Berdasarkan cerita tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, kita diajarkan untuk menjalin hubungan yang baik dengan sesama berupa pergaulan. Pergaulan yang dimaksud adalah dengan senantiasa mengembangkan rasa cinta kasih, dan sangat dipantangkan kita untuk bergaul dengan orang-orang jahat, karena akan membawa pengaruh yang tidak baik bagi pribadi seseorang. Etika pergaulan dalam hal ini adalah bagaimana kita dapat menempatkan diri, dan mengetahui rambu-rambu pergaulan, sehingga kita tidak salah dalam menjalin pergaulan itu. Bijaksanalah dalam memilih pergaulan demi kebaikan , mari kita laksanakan.

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar