MERAIH KASIH SAYANG HYANG WIDHI/TUHAN

MERAIH KASIH SAYANG HYANG WIDHI/TUHAN

Oleh : Drs. I Ketut Biru, M.Si

(Penyuluh Agama Hindu Kec. Ubud)

 

“OM SWASTYASTU “

Dalam meniti suatu kehidupan untuk tercapainya suatu keinginan, apakah yang bersifat dunia atau akhirat, kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh melalui jalan dharma pasti akan tercapai, baik berupa kekayaan artha benda maupun kehormatan, kedudukan dan kewibawaan, akan bisa tercapai, namun di dalam Bhagawadgita semua hal ini bersifat sementera atau tidak kekal.  Satu-satunya hal yang kekal atau permanen dan mempunyai nilai sejati yang dapat diperoleh di dunia ini adalah Kasih sayang Tuhan/Ida sanghyang Widhi Wasa, yang merupakan artha yang tidak bisa dihitung, namun harus dilakukan dengan usaha yang sangat keras melalui jalan Dharma.  Bagaimanakah cara mendapatkannya ? jalan mana yang harus diikuti untuk memperoleh anugrah Tugan ?

Jika kita menanam benih tanpa terlebih dahulu menyiangi dan mempersiapkan lahan sebaik-baiknya tidak akan memperoleh hasil yang baik, demikian juga dalam lahan hati kita, jika semua sifat buruk yang bersifat mementingkan diri sendiri tidak dibuang terlebih dahulu, tidak akan memperoleh hasil yang baik.  Di dalam Kitab Bhagawadgita, ada dikatakan bahwa : “ Rumput liar yang terutama harus dibuang adalah keterikatan dan penyamaan diri dengan badan kasar “.  Di Zaman kali Yuga sekarang ini sifat kepura-puraan manusia mencintai Tuhan, tetapi sekedar memiliki pepikiran seperti itu, tidak akan memberikan hasil yang berguna bagi manusia. Sama seperti menanam benih pada tanah yang tandus dan tidak dipersiapkan.  Yang terpenting adalah kita mengetahui apakah Tuhan mencintaimu ? walaupun kita mencintai Tuhan, jika Tuhan tidak mencintaimu, pengabdianmu tidak akan berarti. Jadi apakah yang harus dilakukan untuk mendapatkan cintak kasih Tuhan ?  Dalam Bhagawadgita pada Bab “Bhakti Yoga” yaitu Jalan Pengabdian “.

Bhakti Yoda adalah selalu menyatu dengan Tuhan, dimana diajaran dalam Bhakti Yoga perlunya pengendalian pikiran dalam segala keadaan, dengan ketegasan, tekad yang teguh untuk hanya mengamalkan ajaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari, dan mengajaran “ Santrupti “ yaitu selalu merasa senang. Ada perbedaan yang mencolok antara rasa puas yang disebut “ Trupti “ dan kegembiraan yang sejati yaitu Santrupti.  Trupti adalah kepuasan yang diperoleh yaitu kebahagiaan yang sementarayang berasal dari benda atau kejadian yang bersifat duniawi, yang sama dengan “ Kirtan “ yaitu musik vokal yang keluar dari mulut. Sedangkan “ Santrupti “ ibarat “ Sankirtan” adalah kebahagiaan yang timbul dari lubuk hati, ia memiliki kebenaran, sifatnya langgeng lepas dari hal-hal keduniawian yang bersifat sementara, dan menampilkan persatuan jiwa.  Jadi dalam hal ini seorang “ Bhakta “  tidak boleh berpengaruh atau mementingkan hal-hal duniawi. Tekad dan ketetapan hati ini dapat digunakan untuk hal yang baik ataupun buruk cara penggunaannya tergantung pribadi seseorang. 

Ketika Walmiki hidup sebagai Ratnakara, ia menggunakan keberanian, keperkasaan, kemampuan dan segala kemampuan lainnya untuk berbuat jahat. Berkat pergaulannya dengan tujuh orang Rsi, mendengarkan ajaran serta wejangan mereka agar ia selalu menyebut nama Tuhan dengan tiada putusnya, ia mampu mengubah hidupnyadan memanfaatkan kebulatan tekad serta segala kemampuannya untuk kebaikan umat manusia, dengan selalu menyebut nama “ Rama “ karena itulah Walmiki menjadi penggubah Ramayana. Karena itu janganlah keteguhan hati dan kekuatan yang dimiliki digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak baik atau bahkan untuk urusan duniawi biasa melainkan pakailah tekad dan tenaga untuk memperoleh kasih sayang Tuhan/Ida Hyang Widhi Wasa. Bhakti Yoga menguaraikan panjang lebar tentang pemujaan kepada Tuhan, baik dengan sifat maupun tanpa sifat, dengan wijud maupun tanpa wujud.  Dalam Kitab Bhagawadgita membandingkan kedua macam pemujaan ini dan menunjukan mana yang lebih baik, lebih mudah, dan lebih aman bagi seorang bhakta pada setiap jenjang pemujaan spoiritualnya. Dan dikatakan pula bahwa “ tidak mungkin manusia mencapai tingkat tanpa sifat dan bentuk, sebelum melalui tahap pemujaan Tuhan dengan  sifat dan wujudnya, selama masih memiliki keterikatan pada badan kasar yang tenggelam dalam keadaan fisik, tidak akan mampu memahami serta mencapai yang Mahatinggiyang tanpa sifat dan tanpa bentuk itu. Kita akan dapat memuja tanpa berwujud, bila telah mampu mengatasi keterikatan dengan raga, keterikatan dengan duniawi, dan semua keterikatan lain. Oleh karena itu selama kita menyamakan diri dengan badan dan beranggapan bahwa kita mempunyai wujud tertentu, kita tidak akan dapat mencapai asfek Tuhan tanpa berwujud.  Untuk meningkatkan diri kepemujaan Tuhan yang tidak berwujud, harus menumbuhkan bunga-bunga kebajikan di dalam hati dan digunakannya untuk memuja Tuhan, maka kita akan mengalami “ Santrupti “ yaitu kebahagiaan bathin yang kekal yang tak terlukiskan, dan akan mampu memasuki jalan untuk kembali menuju keasal yang Illahi.

Di Dalam Bhagawadgita, XII, dikatakan sifat-sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang Bhakta yang sejati agar memperoleh kasih Tuhan adalah :

1.    Mengembangkan kedamaian bathin;

2.    Keteguhan hati;

3.    Harus selalu merasa puas;

4.    Tidak boleh memberi kesempatan pada rasa susah atau kawatir;

5.    Tidak Membiarkan rasa sakit masuk mengganggu ketentraman bhatin.

 

Dalam Srimad Bhagawatham, Kitab kebhaktian yang mulia, “ Prahlada “ seorang putra raja raksasa, dinytakan sebagai abdi Tuhan yang idial karena ia memiliki sifat-sifat luhur, dimana ketika para raksasa menyusahkan Prahlada, ia tidak pernah merasa sakit hati, apapin cobaan atau kesulitan yang harus dihadapinya.  Bahkan justru Prahlada selalu menyebut nama “ Narayana “ berulang-ulang, berlindung kepadanya, pembela dan juru selamatnya, Ia tidak pernah mengeluarkan air mata setetespun dalam kesulitan ini.  Sehingga Prahlada digambarkan sebagai seorang yang telah sempurna dalan Yoga atau menunggal dengan Tuhan, meskipun ia hidup dalam dunia yang fana dan mempunyai wujud, ia tidak mengizinkan keinginan atau keterikatan duniawi mengatasi bhatinnya.

Pengabdi Tuhan yang tidak mengenal sifat buruk seperti : “ Kebencian, iri hati, amarah dan ketagihan, bila memasuki diri setiap manusia sifat-sifat seperti itu menjadi hambatan utama bagi pengamdian.  Bila kita benci terhadap seseorang berarti kita benci terhadap Tuhan itu sendiri yang kita puja.  Karena rasa keakuan serta keangkuhan, kita bertindak terhadap orang lain yang sekaligus menimbulkan kebencian, kedengkian, dan kemarahan.  Karena itu peringatan penting yang diberikan dalam Bhagawadgita yaitu : “ Adveshta sarva bhutanam “ artinya : jangan membenci sesama mahluk, karena kita semua adalah sama “ Vasu Deva Khutum Bhakam “. 

Tanpa menyiangi rumput diladang dan menyiapkan tanahnya untuk ditanami, benih yang ditebarkan tidak akan menghasilkan panen yang baik, demikian pula tanpa menghilangkan rerumputan liar egoisme dari dalam diri kita, segala usaha pengamalan spiritual akan sia-sia.  Jadi hal yang sangat penting dipelajari dari Bhakti Yoga adalah bahwa : “ Kita jangan hanya mencintai Tuhan, tetapi juga semua mahluk/orang, diperlakukan sama dengan Tuhan, karena memuja Tuhan disatu pihak, tetapi dilain pihak merugikan atau menyakiti mahluk lain, tidak dapat dinamakan pengabdian, hal itu hanya menunjukan kedunguan seseorang, orang seperti itu tidak akan pernah maju dalam bidang spiritual. Demikian artikel ini semoga ada manfaatnya.

Om Santih, santih, santih, Om

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar