MODERASI BERAGAMA SEBAGAI UPAYA MENGUATKAN SRADHA DAN BHAKTI UMAT HINDU

MODERASI BERAGAMA SEBAGAI UPAYA MENGUATKAN  

SRADHA DAN BHAKTI UMAT HINDU

OLEH

NI PUTU MAYUN PADMAWATI, S.Ag, M.Pd.H

(PENYULUH AGAMA HINDU KECAMATAN GIANYAR)

 

Di tahun 2019 ini Bangsa Indonesia sudah mencapai usia 74 tahun, itu artinya sudah 74 tahun Bangsa Indonesia merdeka,  terlepas dari belenggu penjajahan, bisa memperoleh kebebasan. Kalau dari segi umur, jika dibandingkan dengan seorang manusia, maka usia 74 tahun ini adalah usia dewasa bahkan sudah termasuk katagori lanjut usia. Memang pada usia 74 tahun seorang manusia tidaklah  produktif lagi, tidak bertenaga dan enerjik seperti pada usia 40 tahun apalagi jika dibandingkan dengan saat berusia 20 tahun.  Tetapi bukan berarti seorang yang lanjut usia kemudian tidak ada gunanya, orang tua adalah figur yang pantas dijadikan panutan, teladan dan pemersatu dalam satu keluarga.

Usia 74 tahun kalau dilihat sebagai usia suatu negara, maka masih akan termasuk usia yang muda karena pada usia ini masih sangat banyak hal – hal yang harus dilakukan, pembangunan di segala bidang sedang berlangsung, baik itu pembangunan secara fisik yaitu pembangunan  berbagai infrastruktur  sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; maupun pembangunan non fisik yang memperkokoh sikap mental Bangsa Indonesia. Tetapi Indonesia juga bisa dikatakan beranjak kepada kedewasaan karena sebagai figur yang dewasa maka Bangsa Indonesia menjadi pemersatu keragaman yang ada.

Potensi Bangsa Indonesia berupa keragaman suku, ras, budaya, bahasa, agama, dan lain sebagainya merupakan modal utama dalam melaksanakan pembangunan. Meski beragam, Indonesia tetap satu. Keragaman di Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa. Dasar negara inilah yang mempersatukan keberagaman tadi, termasuk keberagaman dalam memeluk agama dan dalam mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Dengan demikian, pemerintah harus bisa mendorong keberagaman tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju Indonesia yang lebih baik.

Secara jujur, pembangunan yang sedang berlangsung di Indonesia ini memang belum berhasil sepenuhnya, yang terbukti dari masih belum meratanya pembangunan sampai ke pelosok – pelosok negeri. Masih ada daerah – daerah yang mendapatkan dampak pembangunan seperti daerah lainya. Hal ini tentu bukan karena pemerintah tidak peduli tetapi karena adanya berbagai kendala, diantaranya adalah letak geografis, topografi suatu daerah serta berbagai kendala lainya.

Kita sadari juga bahwa meskipun kita sudah ada pada era kemerdekaan seperti saat ini, Bangsa Indonesia masih juga melakukan  perjuangan dengan menghadapi musuh – musuh yang baru, tidak lagi  penjajahan oleh bangsa lain tetapi musuh saat ini sangat dekat dengan diri kita, dan beresiko sangat mudah mengalahkan kita jika kita tidak kuat mengendalikan diri. Seperti yang termuat dalam kekawin Ramayana I.4  ragadi musuh maparo ri hatya tongwanya, tan madoh ring awak. Jadi musuh terbesar,  dihatilah tempatnya tiada jauh dari diri. Maka pintar – pintarlah dan kuatkanlah  supaya kita tidak dikalahkan oleh musuh tersebut.

Musuh yang dimaksud saat ini adalah budaya hidup konsumtif, gaya hidup hedonisme dimana orang- orang berpacu pada ekonomi dan pemenuhan gaya hidup yang serba glamour semata. Musuh yang lain adalah bahaya penyalahgunaan  narkoba; yang kita sadari akan sangat merusak fisik dan mental para anak negeri. Serta musuh yang lain adalah paham radikal yang ekstrim yang berusaha menghancurkan ideologi bangsa kita.

Terkait dengan keniscayaan keanekaragaman yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia sangat sesuai dengan kondisi sosio-kultur di Indonesia saat ini. Berbagai macam agama, etnis, suku, budaya, dan bahasa berada di bawah kesatuan bumi persada Nusantara Republik Indonesia. Tugas kita ke depan  adalah menjaga bangsa ini agar tetap utuh dan bertahan dari segenap upaya-upaya separatisme para kaum radikal. Sehingga generasi bangsa ini tetap bisa menghargai dan bangga terhadap kebergaman dalam Bangsa Indonesia serta menjadikan sebagai pemersatu  bangsa ini. Jika kita ibaratkan sebuah canang , jika hanya terdiri dari satu jenis bunga saja maka akan  kurang  indah tampaknya. Tetapi jika canang yang terdiri dari berbagai macam bunga, ada bunga pacah (pacar air) beraneka warna, bunga mitir, jepun dan kembang rampe. Akan terlihat indah dan menambah kekhusukan kita beribadah pada Hyang Widhi.

            Upaya nyata pemerintah dalam menangkal paham radikal dan separatisme adalah dengan diluncurkannya tiga mantra  oleh Kementerian  Agama, dimana salah satu bagian dari tiga mantra itu adalah  moderasi beragama.  Moderasi beragama bukan hanya menjadi kebutuhan bangsa Indonesia yang terdiri dari keberagaman, tetapi moderasi  sudah jadi kebutuhan dunia sehingga sangat tepat PBB menetapkan tahun 2019 sebagai tahun moderasi.

Terkait mantra pertama,  yaitu moderasi beragama. Yang perlu diingat bahwa  moderasi yang digaungkan dalam beragama, bukan moderasi agama. Jadi moderasi yang dimaksud di sini adalah cara kita beragama secara moderat, lawan dari ektrem. Yang dimaksud moderat adalah yang sesuai dengan esensi dari agama itu sendiri. Semua agama adalah moderat, termasuk juga Agama Hindu sebagai sebuah ajaran itu pastilah moderat, tapi cara kita memahami ajaran ini yang bisa tergelincir atau terperosok pada paham ekstrem dalam memahami.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki ragam suku dan agama. Indonesia memiliki kekhasan yang unik, tetapi penuh dengan tantangan. Kita jelas sudah sangat mengetahui bahwa dengan kondisi bahwa pandangan eksklusif dan tindakan ekstremisme kekerasan dalam jubah agama akan merusak sendi serta tenun kebangsaan kita yang majemuk.

Sikap dan berperilaku ekstrem (fanatik) dari beberapa orang  atau kelompok  yang dalam pemahaman dan pengamalan agama dikenal dengan kelompok ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Kedua kelompok ini tidak akan pernah mampu memposisikan diri sebagai warga negara yang juga menganut agama  supaya dapat menjadi rahmat bagi segenap alam. Kedua kelompok itu lupa bahwa kita sudah bersepakat pada Pancasila dan UUD 1945. Sebaliknya, justru dapat menjadi perusak alam dan tatanan kehidupan sosial yang terbentuk lewat asas Pancasila.

Di Indonesia, dalam mengayomi umat beragama dan pembinaan umat memahami dan menjalankan ajaran agama, posisi dan fungsi Kementerian Agama (Kemenag) sangat strategis. Kemenag harus mampu memposisikan diri di tengah-tengah keragaman agama dan penganutnya, sekaligus menjadi penengah dalam wujud moderasi dari dua kelompok ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Dengan moderasi berarti  yang kita tumbuh-kembangkan bukan hanya tentang nilai dalam ajaran-ajaran agama, melainkan juga sekaligus tentang kepekaan-kepekaan sosial dalam kehidupan bernegara. Hubungan antara agama dan negara memang idealnya diposisikan saling berdampingan dan beriringan, bukan saling berhadap-hadapan. Agama tidak sedang berupaya merebut otoritas bernegara, dan negara juga tidak sedang membatasi kehidupan beragama. Pada titik ini, kesadaran moderasi sosio-religius dalam beragama dan bernegara menjadi perspektif kita bersama untuk menegaskan bahwa pemberlakuan etika sosial adalah basis keberlangsungan kehidupan masyarakat multikultural serta multi agama.

Pada dasarnya semua agama mengajarkan moderasi. Tuhan menurunkan agama melalui “ orang – orang suci”  untuk menjaga harkat dan martabat manusia yang harus dilindungi sesuai konteks kemanusiaan. Memoderasikan cara beragama, pengamalan (agama) supaya tidak berlebihan, supaya tidak menghancurkan tri kerukunan umat beragama yang ada di Indonesia. Tanpa kesadaran untuk mewujudnyatakan moderasi maka kerukunan intern umat beragama akan tercabik – cabik. Kerukunan antar umat beragama  akan hancur yang akan dapat menimbulkan konflik  yang sudah pernah terjadi di Indonesia. Kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah juga akan rusak jika isu – isu agama dihembuskan dan dibarengi dengan tindakan – tindakan anarkis.

Sebenarnya agama sudah pasti moderat, tetapi cara memahami dan mengamalkannya bisa berlebihan. Spirit pengamalan agama mestinya kembali kepada esensi agama, yakni menjaga harkat, derajat, dan martabat manusia. Memahami esensi agama yang benar harus dengan panduan orang – orang yang berkompeten dan berkualitas, bukan dari perangkat gawai yang rawan salah. Karena keterbatasan informasi yang didapatkan dari gawai justru bisa memunculkan fanatisme berlebihan dan menjadikan seseorang tidak moderat. Di sinilah pentingnya ‘batu pertama’ moderasi beragama dibangun atas dasar filosofi universal dalam hubungan sosial kemanusiaan

Sebuah ilustrasi sederhana tentang bagaimana peran moderasi dalam menguatan sradha dan bhakti

… ada sepasang suami istri yang tinggal dalam sebuah komplek perumahan. Suami setiap hari melaksanakan tugas, menekuni pekerjaannya di luar rumah sedangkan istrinya tinggal di rumah mengurus rumah tangga.  Setiap hari si istri sering mengeluh, dan keluhannya selalu tentang tetangga tetangga mereka. Kadang menjelang suami berangkat kerja, si istri berkata “ Pak…tetangga kita jorok sekali, masa lantai rumahnya kotor sekali tidak pernah di pel”.  Terkadang juga si istri mengomentari  cat rumah tetangganya yang dikatakan buram, atau pakaian di jemuran tetangga yang dikatakan kusam, bahkan juga mengeluhkan cuaca yang dikatakan mendung, tidak cerah. Akhirnya suatu hari ketika sedang libur, si suami duduk santai di teras, di depan rumah. Pada saat itulah dia melihat jendela rumahnya kotor dan berdebu.  Si suami lalu mengambil lap dan membersihkan jendela – jendela rumahnya.Si istri yang kemudian datang dan berdiri dekat jendela yang sudah bersih dan terbuka lebar lalu berkata “ Nah… kenapa ya tumben cuaca cerah dan tidak panas serta gerah… Tetangga kita sekarang sudah lebih baik, rumahnya bersih.. pemilihan warna cat rumahnya juga bagus, tidak kusam lagi.”

 

Dari ilustrasi di atas banyak hal positif yang  bisa diambil. Jika kita ibaratkan  sebuah rumah, maka sepantasnyalah kita membersihkan rumah kita terlebih dulu. Kita hias rumah kita seindah mungkin, kita selalu membersihkan rumah, pel lantainya, kita lap jendela – jendela dan buka lebar – lebar supaya angin bisa masuk dan memberi kesejukan. Kita jadikan rumah kita senyaman mungkin sehingga bisa sesuai dengan  slogan “ RUMAHKU ISTANAKU”  Lalu melalui jendela yang bersih dan terbuka itulah kita akan bisa rumah – rumah orang lain adalah juga ternyata indah dan bersih. Marilah kita juga keluar supaya melihat keindahan alam ini.

Terkait dengan moderasi beragama sebagai penguat sradha bhakti  maka agama kita  ibarat sebuah rumah.  Mari kita merasa nyaman dalam agama yang kita anut. Sebagai umat beragama Hindu maka marilah kita menjadi nyaman dalam agama kita. Bagaimana caranya…? Yaitu tumbuhkan pengetahuan, pemahaman serta kebanggaan terhadap agama kita sendiri terlebih dahulu, Tingkatkan  sradha dan bhakti kita.

Sradha dapat diartikan keyakinan atau kepercayaan sebagai cikal bakal dari penguatan  beragama, jika umat Hindu tidak memiliki memiliki sradha  maka akan terjadi kerapuhan akan ajaran agama, untuk itu penting sekali untuk menjaga kemurnian ajaran agama. Dalam agama  Hindu bentuk keyakinan atau sradha ini disebut Panca Sradha yaitu lima bentuk keyakinan/ kepercayan yaitu percaya kepada Brahman; percaya kepada Atman, percaya kepada karmaphala, percaya kepada punarbhawa, percaya pada moksa.

Bhakti dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar dan sering memakainya sesuai dengan tujuannya. Secara etimologi kata bhakti dalam kamus besar bahasa Indonesia (1997 : 82) diartikan tunduk dan hormat atau perbuatan yang menyatakan setia ( kasih, hormat dan Tunduk ). Karena bhakti berarti tunduk, hormat dan setia, maka dalam berbagai aspek kehidupan dipakai sebuah pernyataan penyampaian rasa bhakti itu sendiri, seperti : bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur (tanda penyampaian rasa hormat dan tunduk ), bhakti kepada nusa dan bangsa, bhakti kepada orang tua, bhakti pada guru, bhakti kepada ratau pemimpin. Kata bhakti dengan tulisan “bhakti” bahasa Sanskerta berarti bagian, pembagian, penghormatan, bhakti, kesetiaan. Sedangkan dalam kamus istilah Agama Hindu (2002 :18) dinyatakan bhakti dari urat kata bhaj = hormat, sujud, bhakti. Bhakti marga = jalan bhakti : melaksanakan agama dengan jalan sembahyang mempersembahkan upakara dan sebagainya. Pengertian bhakti disini analog dengan takwa, sedangkan sradha analog dengan iman, sehingga istilah iman dan takwa ( imtag ) dalam bahasa yang sudah popular dalam agama Hindu disebut sradhabhakti. Tokoh yang bisa kita jadikan panutan dalam pengamalan sradha bhakti adalah Sang Dasarata.

Gunamanta sang Dasaratha, wruh sira ring weda bhakti ring dewa,

tarmalupeng pitra puja masih ta sira sireng swagotra kabeh.

(Kakawain Ramayana, I.3)

 

Dasarata banyak memiliki tabiat mulia. Beliau menguasai Veda dan penuh bhakti ke hadapan para dewa. Tidak pernah lupa beliau memuja leluhur, demikian juga dia penuh kasih kepada saudara-saudaranya sendiri.

 

Jika sradha dan bhakti umat Hindu sudah meningkat, jika “rumah kita” sesuai ilustari tadi sudah asri dan memberi kenyamanan pada diri kita maka kita akan bisa melihat “rumah orang lain” yaitu agama lain juga pada dasarnya adalah juga indah. Seperti dinyatakan dalam pustaka suci

Ye yatha mam prapadyante

Tams tathai ‘va bhajamy aham

Mama vartma ‘nuvartante

Manushyah sarva sarvasah

                              (Bhagawad Gita IV.11)

Artinya :

Jalan manapun ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Ku-terima, dari mana – mana semua mereka menuju jalan-Ku, oh Parta.

 

Dari kutipan pustaka  di atas dapat kita simpulkan bahwa  keyakinan apapun atau agama apapun yang dianut seseorang dalam tujuan mencari Tuhan, diterima olehNya. Setiap agama mengajarkan untuk berbuat baik, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga kepada semua mahkluk, sarwa prani hitankara. Kita harus memupuk kesadaran bahwa tidak ada ajaran agama yang menganjurkan untuk merusak dan menghancurkan  alam ini beserta umat manusia di dalamnya. Jadi jika ada tindakan anarkis, ekstrem dan tidak berperikemanusiaan yang terjadi dengan mengatasnamakan agama, maka yang salah bukanlah ajaran agama. Tetapi oknum atau  manusianya yang salah memahami ajaraan agama yang dianutnya.

yo-yo yam-yam tanum bhaktah

sraddhaya ‘rchitum achchhati

tasya-tasya ‘chalam sraddham

tam eva vidadhamy aham

                  Bhagawad Gita VII.21

Artinya :

Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan

kepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera.

Sloka ini, disamping sifatnya memberi penegasan terhadap sloka sebelumnya, juga mempunyai makna yang sangat universal yaitu; bahwa Kresna memberitahukan kepada umat manusia, bahwa di dunia ini akan ada agama lebih dari satu dan tuhan mempersilahkan kepada manusia untuk memilih, mana yang akan dijadikan dasar kayakinannya. Dan oleh setiap agama akan diajarkan bagaimana cara sembahyang, berdoa, mantra-mantra, pujian-pujian yang menuju kepada tuhan. Sloka ini juga mengajarkan kepada kita untuk saling menghormati sesama pemeluk agama, janganlah saling menghina, saling menyombongkan agama. Karena semua agama bisa ada di dunia adalah karena kehendak tuhan dan bukan karena kemauan manusia. Karena apabila ada orang yang menghina atau melecehkan agama lain, sebenarnya orang tersebut sangat tidak mengerti secara mendalam tentang keberadaan agamanya sendiri.

            Kita memang harus menanamkan kesadaran bahwa setiap agama pada dasarnya adalah sama – sama mengajarkan kebaikan. Tetapi perlu diingat, janganlah juga mencampur - adukkan  semua ajaran agama karena itu akan menimbulkan pemahaman yang salah dan akan menjadi penyimpangan terhadap pelaksanaan ajaran agama yang paling hakiki. Kita ingat kembali beberapa orang yang membentuk kelompok – kelompok dengan melaksanakan kegiatan agama, yang menggabungkan berbagai ajaran. Itu juga adalah hal salah, menimbulkan keresahan di masyarakat dan melanggar hukum yang berlaku di Indonesia.

            Perlu diingat juga walaupun ada pepatah yang mengatakan “ rumput di halaman tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri” maka umat beragama jangan sampai melihat agama  lain itu sebagai suatu keindahan maka tertarik untuk memasuki “halaman rumah tetangga” atau menjadi pemeluk agama lainnya dan meninggalkan ajaran agama yang sudah dianut.

Cara supaya kita tidak memasuki halaman rumah tetangga (agama lain), tetapi merasa bangga dengan nyaman dalam Hindu, supaya sradha dan bhakti umat Hindu semakin  menguat maka yang harus dilakukan adalah penanaman pengetahuan  agama. Tentu saja itu menjadi tugas kita bersama. Harus diseimbangkan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor anak didik dalam hal keagamaan. Dalam ajaran Agama Hindu untuk menguatkan sradha dan bhakti umat tentu saja  dengan penanaman tattwa, etika dan upacara. Jika diibaratkan tattwa itu adalah kepala, susila adalah hati, upacara adalah tangan dan kaki agama. Dapat juga diandaikan sebagai sebuah telor, sarinya adalah tattwa, putih telornya adalah susila dan kulitnya adalah upacara. Telor ini akan busuk jika satu dari bagian ini tidak sempurna dan tidak akan menetas. Maka dari itu, ketiga kerangka ini haruslah seimbang. Jadi tidak hanya menuntut nilai yang tinggi, tetapi juga memperhatikan aspek susila, budi pekertinya, serta bagaimana anak didik menjalankan ajaran agama seperti rajin atau tidaknya beribadah, tri sandhya dan kramaning sembah.

            Upaya yang dilakukan dalam pendidikan karakter sangat penting. Mahatma Gandhi  bahkan berujar  “Pendidikan tanpa karakter adalah sia-sia” (education without character is useless) bahkan sangat membahayakan. Yang perlu diingat dalam penguatan sradha dan bhakti umat Hindu khususnya para peserta didik adalah adanya keteladanan dari para pendidik. Suatu kemustahilan jika kita menuntut anak didik, bahkan juga  masyarakat untuk mengubah pola pikir dan sikapnya, sementara para guru sebagai tokoh panutan tidak mampu memberikan keteladanan dan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Berikan contoh nyata dan bukan hanya sekedar teori. Sehingga anak – anak sekarang tidak mengatakan NATO (not action talk only).

            Jika anak didik sudah diberikan pengetahuan agama;  mempunyai rasa simpati dan empati terhadap orang lain bahkan juga mahluk lain (asung wilasa); serta terbiasa melaksanakan ajaran agama dengan kramaning sembah dan tri sandhya maka bisa kita katakan sradha dan  bhakti umat Hindu khususnya para peserta didik, para generasi penerus kita  semakin menguat sehingga bisa membuka “jendela” pemikiran untuk bisa secara jernih melihat ajaran agama lain, ada rasa menghormati agama dengan segala pelaksanaan ajaran agamanya tanpa tergoyahkan, tanpa ada keinginan untuk berpidah atau memasuki  agama lain.

Moderasi beragama bukan untuk mencairkan atau menggerus keyakinan, sradha dan bhakti umat Hindu. Tiap umat beragama harus meyakini agama masing-masing benar. Dengan menghormati keyakinan orang lain, maka keyakinan kita  terhadap agama semakin menguat dan  tidak akan pernah luntur.

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar