PEMBERDAYAAN EKONOMI MENURUT HINDU

PEMBERDAYAAN EKONOMI MENURUT HINDU

Oleh : Drs. I Ketut Biru, M.Si

(Penyuluh Agama Hindu Kec. Ubud)

 

 

Om Awignam Astu namo Sidham

Om Swastyastu

 

Marilah kita bersama-sama memanjatkan doa pujastuti kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kertawaranugrahanyalah kita dapat bertemu dalam suasana hening dan bahagia. Pada hari ini saya menyampaikan Dharma Wecana dengan judul “ Pemberdayaan Ekonomi Menurut Hindu “

“ Umat Sedharma yang berbahagia “

Dalam menjalani kehidupan umat wajib hukumnya bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan atau Artha. Namun penghasilan yang diperoleh tersebut mesti didasari atas Dharma dan kerja keras,  artinya artha yang diperoleh dengan kerja keras “Mertha” namanya, demikian sebaliknya artha yang diperoleh dengan jalan pintas “Wisya” namanya, dan artha  diperoleh dengan cara yang benar mesti dimanfaatkan dengan baik dan seimbang.

“Umat Sedharma yang berbahagia “

Di dalam ajaran Agama Hindu ada 4 jenjang tingkatan hidup yang patut dijalani sebagai sebuah svadharma, yang dinamakan Catur Asrama yang terdiri dari :

(1)  Brahmacari Asrama yakni masa mencari ilmu pengetahuan;

 (2) Grhasta Asrama yaitu masa membangun rumah tangga;

 (3) Wanaprasta Asrama ialah masa mencari keheningan;

(4)  Bhiksuka Asrama merupakan masa sanyasin.

Pada masa Grhasta Asrama, hendaknya mampu memenuhi tujuan hidup, yaitu mengejar artha sebanyak mungkin namun dengan tetap berdasarkan “ Dharma ”

Dalam Kitab Sarascamuscaya, 261 dikatakan bahwa :

 “ Yan Paramartanya yan artha kama sadyan, dharma juga lekasakena rumuhun,

Niyata ketemuaning artha kama mna, dening anasar sakeng dharma

 

Dalam  kitab Sarassamuscaya, 262 Harta yang diperoleh seseorang dalam penggunaannya  harus dapat di bagi tiga, yakni:

a.    Sadhana ri Kasiddhan in dharma

Sepertiga dipakai untuk memenuhi Dharma. Contohnya untuk melakukan kewajiban-kewajiban dharma, seperti  pelaksanaan Panca Yadnya dan berdana punia

b.    Sadhana ri kasiddhan in Kama

Sepertiga dipakai untuk memenuhi Kama. Contohnya, untuk kesenian, olahraga, rekreasi, hobby, dan lain sebagainya.

c.    Sadhana ri kasiddhan in Artha

Sepertiga dipakai untuk mendapatkan harta kembali, contohnya, untuk memproduksi sesuatu, berjualan, dan lain sebagainya.

Sisa dari sepertiganya ini hendaknya disimpan/di tabung, untuk keperluan dikemudian hari, dimana dalam Bhagawadgita XIII,8 dikatakan : 6 kelemahan manusia yang patut direnungkan yaitu :

1.      Jadma  : bersyukur kita menjelma manjadi manusia, karena diantara ciptaan Tuhan hanya manusia yang paling sempurna, karena memiliki Tri Premana yaitu Sabda (Agama ), Bayu ( Ugama ) dan Idep ( Igama )

2.      Dosa     : kesalahan, cacad, cela, noda dan keburukan

3.      Duhka   : punya perasaan sedih

4.      Jara        : Umur Tua

5.      Wyadi   : Saki, yang banyak menyita waktu dan biaya

6.      Mertyu  : meninggal

“Umat Sedharma yang berbahagia “

Dalam sastra Bali ( Gaguritan Basur ) ada ditemukan sebuah tutur tentang pentingnya menabung, dimana dalam Geguritan tersebut tokoh I Nyoman Karang menuturkan pentingnya menabung kepada dua putrinya, untuk bekal dikemudian hari, yang dikatakan sebagai berikut:

 

“ Yan mengelah pipis patpat,

dadua simpen apang ilid,

Adase mangelah jinah,

lelima simpen dibungbung,

buin mani ade antosang

Kain cerik

Eda goroh teken awak

Jika memiliki uang empat rupiah’

Dua rupiah supaya ditabung’

Jika memiliki uang sepuluh rupiah,

Lima rupiah simpen dibungbung,

Kelak uang itu bisa diambil jika diperlukan untuk membeli kain,

Janganlah hidup boros

 

Dalam menjalankan kehidupan, etos kerja orang Hindu adalah bhakti, dengan berdasarkan rasa bhakti umat bekerja tidak terlalu memikirkan hasil, tetapi dengan bekerja, hasil akan menyertai dengan sendirinya, karena itu bekerjalah.

Dalam Bhagawadgita disebutkan “Umat tidak boleh brpangku tangan atau bermalas-malasan” :

Karmany evadikaraste, mapalesu kadacana,

Makarmaphala etur bhur, matasanga stva karmani

Artinya :

Kewajibanmu adalah bekerja, bukan pada hasilnya, walaupun tidak berharap hasil, tidak boleh berdiam diri alias tidak bekerja.

 

Ingat 5 Budaya Kerja Kementerian Agama ( Integritas, Profesionalisme, Inovasi, Tanggungjawab dan Keteladanan

“ Umat Sedharma yang berbahagia “

Dalam memberdayakan ekonomi umat, hendaknya selalu berlandaskan pada dharma, agar artha yang diperoleh menjadi mertha bukan menjadi wisya. Dengan demikian dari Dharma Wecana yang saya sampaikan ini dapat disimpulkan :

1.      Budaya kerja harus menjadi swadharma yang utama.

2.      Panghasilan atau artha yang diperoleh selalu berlandaskan ajaran dharma.

3.      Belajarlah hemat dalam menggunakan artha.

Demikianlah, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, apabila ada hal-hal yang kurang berkenan mohon di maafkan dan kita tutup dengan parama santi, Om santih, santih, santih, Om.)

 

 

 

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar