Pengumuman Baru
  • 15:01 WITA http://lkp.kemenagjembrana.com/laporan

SEJARAH FKUB

            

Beragama  adalah hak yang paling hakiki bagi setiap orang;  oleh karenanya memeluk agama merupakan pengajawantahan dari keyakinan akan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta sebagai sangkan paraning dumadi. Negara sebagai wadah dan memiliki kekuasaan untuk mengatur wilayah beserta isinya berkewajiban untuk memberikan perlindungan dan memfasilitasi setiap proses dan aktifitas keberagamaan.


Indonesia sebagai Negara yang religius memberikan tempat yang sangat terhormat akan keberagamaan warga negaranya, bahkan  memberikan pengakuan akan adanya  agama-agama yang hidup dan berkembang di Indonesia. Fenomena ini merupakan realitas yang tak terbantahkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, memiliki keaneka ragaman Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan, yang berbeda-beda tetapi tetap satu sebagaimana somboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.


Terminologi ini telah memberikan pemaknaan akan realitas sosial yang ada dan terjadi terhadap bangsa ini, disatu sisi adanya kesadaran akan perbedaan dan disisi yang lain perlunya persatuan dan kesatuan.

Bagaimana menempatkan keduanya itu dalam porsi dan proporsinya, inilah yang perlu secara terus menerus diaktualisasi sesuai dengan desa, kala dan patra.

Aktualisasi dimaksud  didasarkan atas kesadaran kolektif bahwa kehidupan itu dinamis sehingga tantangan dan hambatan yang terjadipun bersifat dinamis sesuai dengan jiwa jaman.

Bangsa Indonesia yang berbineka terdiri dari  1.340 suku,742 Bahasa dan terdiri  lebih dari 17.504 pulau yang membenteng dari sabang sampai Maeroke, ini adalah kekayaan yang di anugrahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa , kita patut bersukur, namun dibalik kekayaan itu terbuka jurang itegrasi dan peluang  ketidak harmobnisan apa bila salah dalam mengelola kekayaan yang ada. 

Hal ini telah terjadi beberapa tahun belakangan ini, seringkali perbedaan ras Suku, Agama dijadikan alat pemecah belah persatauan dan kesatuan Bangsa kita, terlebih lebih banyak palitikus yang kurang cerdas dalam mengel;ola isu demi kepentinga pribadi mereka menggunakan perbedaan  Agama dijadikan alat menuju kekuasaa.  Melihat kondisi ini diperlukan lembaga seperti FKUB sebagai lembaga mempererat hubungan antar pemeluk Agama.

Dalam konteks inilah diperlukan wadah atau tempat dimana perbedaan-perbedaan yang ada dipertemukan, dikomunikasikan dipersatukan tanpa harus saling meniadakan satu dengan yang lainnya.

Disinilah makna Bineka Tunggal Ika sebagai suatu kesadaran kultural diaplikasikan, diaktualisasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan.

Adanya pemaknaan tunggal atas kebenaran, dominasi, hegemoni terhadap yang lain sering berimplikasi pada rasa ketidak-adilan dan ketidak-setaraan yang membawa sentimen kelompok yang semakin mengkristal.

Apabila hal ini semakin tersedimentasi ini merupakan pertanda ketegangan sosial terjadi dan muaranya dapat menimbulkan konflik.

Apabila konflik yang terjadi dibungkus dengan label agama, maka yang terjadi adalah kita akan tahu kapan konflik itu terjadi namun tidak akan pernah tahun kapan akan berakhir.

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar