Pengumuman Baru
  • 15:00 WITA *Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama RI : Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tangungjawab, Keteladanan*
  • 15:00 WITA *Selamat Hari Raya Suci Nyepi Tahun Caka 1941*

Mencumbui Penderitaan: Siapa Takut?

Mencumbui Penderitaan: Siapa Takut?

Mencumbui Penderitaan: Siapa Takut? 

(Seberkas Makna Perayaan Jumat Agung)

Oleh: Yulianus A. Gale, S.Ag. 

(Penyuluh Kanwil Kemenag Prov. Bali)


Kadang kita mendengar ungkapan “kalau ada yang mudah mengapa cari yang sulit, kalau ada jalan pintas/potong, mengapa harus mengikuti yang berkelok, kalau ada yang instan mengapa harus berproses”. Ternyata ini bukan sekedar slogan, tapi mengkristal menjadi mentalitas zaman now, kadang dengan disertai  alasan suci seperti demi efektifitas dan efisiensi. Hanya saja yang memprihatikan, kalau mentalitas mancam ini menjadi ekspresi pribadi egosentrik yang tidak peduli, tidak mau repot, tidak mau susah, tidak mau berkorban, atau tidak mau menderita untuk tujuan yang positif demi kepentingan diri dan sesama. 

Ungkapan di atas persis berbading terbalik dengan intisari perayaan Jumat Agung yang dirayakan setiap umat kristiani. Episode-episode sengsara Yesus yang diperingati, jika direnungkan memberikan penegasan bahwa betapa Yesus yang sesungguhnya penuh kuasa membiarkan diri-Nya dikhianati, digiring ke pengadilan yang tidak adil, disiksa, disangkal, dihina, dilecehkan dan dipaku serta mati di kayu salib. Untuk apa semuanya itu? Untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya yaitu menyelamatkan kita manusia yang berdosa. Semuanya dilakoni dalam satu sikap batihin “rela-setia’ sebagaimana tegas tergambar dalam doa di taman Getsemani jelang sengsaraNya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Matius 26:39) ”. Sekedar catatan, cawan dalam konteks ini adala penderitaan)

Kisah Sengsara Tuhan ini menawarkan kepada setiap umat kristiani antara lain sebuah pilihan untuk rela dan setia menederita demi ketaatan pada kehendak Tuhan; atau berani menderita demi tujuan yang positif yang tentunya direstui Tuhan. Dewasa ini sikap baik dan benar atau sikap positif menjadi barang langka. Mengapa? Ini adalah sikap yang dihindari banyak orang lantaran tereliminasi oleh budaya instan, semangat konsumerisme, hedonisme dan semangat egosentris. Padahal duka dan derita adalah satu sisi mata uang hidup manusia. Dan bagi umat Kristiani duka-derita/salib adalah identitas yang dituntut karena menjadi pengikut Yesus Kristus. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)”. 

Secara sederhana memikul salib/menanggung derita di sini merupakan tindakan aktif untuk terus setia, tekun, penuh tanggungjawab dan konsisten melaksanakan aneka tugas, memainkan aneka peran, dan menunaikan aneka kewajiban. Lebih jauh, memanggul salib juga berarti tidak lelah mengembangkan naluri kemanusiaan untuk tidak sekedar simpatik atau empati melainkan berbelarasa (Compassion) dengan sesame lintas batas sara dimana  penderitaan sebagai taruhannya. 

Contoh konkrit di tengah mengganasnya pandemic Covid 19. Tinggal di rumah, jaga jarak, bangun kebiasaan bersih saat ini menjadi tantangan-penderitaan bagi mereka yang  tidak biasa. Namun harus dilakukan demi kebaikan bersama yaitu demi putusnya penyebaran virus corona.  Selanjutnya membangun gerakan untuk peduli sesama akibat covid 19 itu sendiri juga tidak semudah membalikan telapak tangan karena kita sendiri mungkin mengalami derita.  Ini semua salib/penderitaan bagi diri. Tapi harus dilaksanakan.

Singkatnya, Jumat Agang akan bermakna jika umat kristiani bukanya menghindari melainkan turut ambil bagian mengembankan sikap taat dan setia kepada Allah dengan taat dan setia memikul salib/penderitaannya masing-masing entah itu berupa tugas dan kewajiban hidup di rumah, di tempat kerja, ditengah masyarakat atau aneka tuntutan untuk berbelarasa dengan sesama. 

Bagi umat kristiani, Yesus Kristus telah gemilang mencumbui penderitaan demi keselamatan hidup manusia: Beranikah menjawab “Siapa takut? Kalau ditanya “Maukah kamu berkorban, keluar dari egoisme cinta diri dan kelompok serta mulai membangun jembatan cinta-berbelarasa meski harus menderita demi kebaikan dan keselamatan bersama?  


Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar