Lailatul Qadar merupakan malam yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam ajaran Islam. Malam ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan dan menjadi momentum turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna, keutamaan, serta amalan-amalan yang dianjurkan dalam rangka mengejar Lailatul Qadar. Pendekatan yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Hasil kajian menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar peristiwa historis, tetapi momentum spiritual yang menuntut kesungguhan ibadah, peningkatan kualitas diri, serta komitmen moral dan sosial yang berkelanjutan.
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya terdapat satu malam yang sangat agung, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini memiliki nilai yang luar biasa, bahkan lebih baik dari seribu bulan. Keutamaannya menjadikan setiap muslim dianjurkan untuk bersungguh-sungguh mencarinya, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 1–3)
Ayat ini menunjukkan betapa agungnya Lailatul Qadar. Nilai ibadah pada malam tersebut melampaui ibadah selama seribu bulan atau sekitar delapan puluh tiga tahun lebih. Dengan demikian, mengejar Lailatul Qadar merupakan bentuk kesadaran spiritual untuk memaksimalkan kesempatan emas yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Pembahasan
1. Hakikat dan Keutamaan Lailatul Qadar
Secara bahasa, “Lailatul Qadar” dapat diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan (takdir). Pada malam tersebut, Allah menetapkan berbagai urusan makhluk-Nya. Dalam Surah Ad-Dukhan ayat 3–4 disebutkan:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi… Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
(QS. Ad-Dukhan: 3–4)
Selain itu, malam ini juga menjadi malam turunnya para malaikat dengan membawa rahmat dan keberkahan. Allah SWT berfirman:
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”
(QS. Al-Qadr: 4–5)
Keistimewaan lainnya ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala (ihtisab), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar adalah momentum pengampunan dosa dan pembaruan spiritual. Oleh karena itu, malam ini tidak hanya bernilai kuantitatif (lebih baik dari seribu bulan), tetapi juga kualitatif dalam membentuk pribadi yang bertakwa.
2. Waktu Terjadinya Lailatul Qadar
Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh malam terakhir. Rasulullah SAW bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam-malam ganjil, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Hikmah dirahasiakannya kepastian waktu Lailatul Qadar adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir, bukan hanya pada satu malam tertentu.
3. Amalan dan Ibadah untuk Mengejar Lailatul Qadar
Untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan:
a. Qiyamul Lail (Shalat Malam)
Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya secara signifikan pada sepuluh malam terakhir. Dalam hadis disebutkan:
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir (Ramadhan), Rasulullah SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat malam menjadi ibadah utama dalam rangka menghidupkan Lailatul Qadar, baik berupa shalat tahajud, witir, maupun memperbanyak doa dan munajat.
b. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an
Karena Lailatul Qadar adalah malam turunnya Al-Qur’an, maka memperbanyak tilawah dan tadabbur menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Interaksi dengan Al-Qur’an pada malam tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap peristiwa agung turunnya wahyu.
c. Memperbanyak Doa dan Istighfar
Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang dibaca jika bertemu Lailatul Qadar. Beliau menjawab:
“Bacalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku).”
(HR. Tirmidzi)
Doa ini menunjukkan bahwa inti dari pencarian Lailatul Qadar adalah memohon ampunan dan rahmat Allah SWT.
d. I’tikaf
Rasulullah SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk lebih fokus dalam beribadah. I’tikaf menjadi sarana untuk menjauhkan diri dari kesibukan duniawi dan memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah SWT.
e. Memperbanyak Sedekah dan Amal Sosial
Ramadhan adalah bulan kepedulian sosial. Mengejar Lailatul Qadar tidak hanya dengan ibadah ritual, tetapi juga dengan meningkatkan kualitas kepedulian terhadap sesama, seperti bersedekah, membantu fakir miskin, dan mempererat ukhuwah.
Relevansi Lailatul Qadar dalam Kehidupan Kontemporer
Dalam konteks kehidupan modern yang sarat dengan kesibukan dan distraksi digital, Lailatul Qadar menjadi momentum refleksi diri. Ia mengajarkan pentingnya manajemen waktu, kesungguhan spiritual, dan prioritas hidup. Nilai “lebih baik dari seribu bulan” mengandung pesan bahwa kualitas lebih utama daripada kuantitas.
Mengejar Lailatul Qadar bukan sekadar mencari tanda-tanda fisik malam tersebut, melainkan membangun kesadaran batin untuk memperbaiki hubungan dengan Allah (hablun minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas). Dengan demikian, keberhasilan meraih Lailatul Qadar akan tercermin pada perubahan sikap, peningkatan integritas, serta komitmen moral dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kemuliaan, keberkahan, dan ampunan. Al-Qur’an dan hadis telah menegaskan keutamaannya serta menganjurkan umat Islam untuk bersungguh-sungguh mencarinya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Amalan seperti qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, i’tikaf, dan sedekah menjadi sarana utama dalam meraih kemuliaan tersebut.
Pada akhirnya, mengejar Lailatul Qadar adalah bentuk ikhtiar spiritual untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan memperkuat komitmen moral. Semoga setiap upaya yang dilakukan dalam rangka menghidupkan malam-malam Ramadhan menjadi jalan turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT, serta menjadikan kita hamba-hamba yang kembali kepada-Nya dalam keadaan suci dan bertakwa. Aamiin.
Informasi Penting
-
- 22:18 WITA
- 12 Mar 2026
- Provinsi
-
- 12:08 WITA
- 04 Mar 2026
- Provinsi
-
- 20:18 WITA
- 27 Peb 2026
- Provinsi
-
- 20:59 WITA
- 18 Peb 2026
- Provinsi
-
- 11:09 WITA
- 18 Peb 2026
- Provinsi
Lihat Informasi lainnyaDaftar Rumah Ibadah Ramah Pemudik Provinsi Bali Tahun 2026
SE Sekjen Kemeterian Agama Nomor 5 Tahun 2026 Tentang Penyesuaian Tugas Kedinasan Bagi Pegawai ASN Kemenag pada Masa Libur Nasional dan Cuti Bersama Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idulfitri
Seruan Bersama Tentang Pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948/Tahun 2026 yang Bertepatan dengan Malam Takbiran Idulfitri Tahun 1447 Hijriah/ 2026 Masehi
SE Sekjen Kemenag Nomor 4 Tahun 2026 Tentang Jam Kerja Pegawai Kementerian Agama Pada Bulan Ramadan 1447 Hijriah
Jadwal Imsakiyah Provinsi Bali 2026