Opinion

Merusak Alam Berarti Menghancurkan Kehidupan Umat Manusia

230 dilihat

Oleh : Gede Sadiana,S.Ag.,M.Pd.H

Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kab. Buleleng


Hyang Widhi menciptakan alam sebagai badan wadah adalah menjadikan badanNYA itu sebagai media kehidupan umat manusia dan mahluk hidup lainnya, kalau eksistensi badanNya diganggu yang rugi bukan Hyang Widhi tetapi mahluk hidup sendiri terutama umat manusia. Apa yang menimpa saudara kita di Desa Musi dan Pemuteran Kecamatan Gerokgak, termasuk beberapa pelinggih dan penyengker Pura Blatungan yang roboh diterjang banjir di kawasan Banyupoh atau daerah lain di Bali adalah akibat perilaku kita yang kurang bersahabat dan tidak sayang kepada alam ini, salah satu contoh membuang sampah sembarangan, atau maraknya penebangan kayu ( illegal logging ) sehingga ketika musim hujan saluran got / sungai tak mampu mengalirkan air maka terjadilah banjir. alam semesta merupakan Stana Hyang Widhi semua tempat yang ada di dunia ini beliau selalu hadir, alam semesta ( Bhuana Agung ) sesungguhnya badan nyata dari  Hyang Widhi, dalam Yajur Veda XXX.1 dinyatakan sebagai berikut :

Isya Vasyamidan Sarvam Jagat, Yatkim Ca Jagatya Jagat  
Artinya :
Tuhan berstana di alam semesta yang bergerak maupun tidak bergerak.      

             
Menurut Pandangan sloka ini alam semesta termasuk bumi adalah Stana Hyang Widhi.  Alam dengan segala wujud dan karakternya memiliki nama dan rupa. Artinya setiap wujud (rupa ) memiliki nama atau sebutan, setiap nama dan rupa itu juga memiliki arti dan fungsinya masing – masing dan atas kemahakuasaan Hyang Widhilah alam ini memiliki nama dan rupa. Alam ini sebenarnya sangat kaya raya dan telah memberikan kehidupan kepada umat manusia, tetapi mengapa ada manusia yang miskin dan sengsara, hal ini disebabkan oleh ketidakmampuannya memahami kekayaan yang di sembunyikan didalam langit dan bumi. Rta adalah hukum alam ciptaan Hyang Widhi untuk menata eksistensi dan dinamika alam yang terbangun dari lima unsur alam yang disebut Panca Maha Bhuta.
Dalam kita suci Sarasamuscaya Sloka 135 menyatakan sebagai berikut :


Haywa tan maasih ring sarwa prani, apan ikang prani ngaranya, ya ika nimitaning kapagehan ikang Catur Warga, nang Dharma, artha, kama moksa.

Yang mempunyai arti : Jangan tidak menaruh belas kasihan pada semua mahluk hidup, karena kelebihan mereka itu tetap terjaminnya tegaknya Catur Warga yaitu Dharma , Artha, Kama dan Moksa. untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan khususnya terhadap alam semesta, umat Hindu telah memiliki ajaran dengan konsep Tri Hita Karana yaitu Parhyangan hubungan manusia dengan Tuhan, Pawongan yaitu hubungan sesama manusia agar tetap terjalin dengan baik Vasudevakuthumbakam semangat menyamabraya semua saudara serta Palemahan yaitu hubungan manusia dengan alam atau lingkungannya, oleh karena itu manusia wajib menjaga alam dan menyayangi alam juga. untuk menjaga kesucian diri dan juga alam semesta kita wujudkan nilai – nilai dari Sad Kertih yang meliputi :

  • Atma Kertih yaitu suatu upaya untuk melakukan pelestarian dengan segala usaha untuk menyucikan Sang Hyang Atma dari belenggu Tri Guna ( Satwam,Rajas dan Tamas )
  • Samudera Kertih yaitu suatu upaya untuk menjaga kelestarian samudera / lautan sebagai sumber alam yang memiliki fungsi sangat kompleks dalam kehidupan umat manusia.
  • Wana Kertih yaitu upaya untuk melestarikan hutan karena itu di daerah dibangun pura alasangker untuk menjaga kelestarian hutan secara niskala.
  • Danu Kertih yaitu suatu upaya untuk menjaga kelestarian sumber air tawar di daratan seperti sumber mata air, danau, dan sungai.
  • Jagat Kertih yaitu upaya untuk melestarikan keharmonisan hubungan sosial yang dinamis dan produktif berdasarkan kebenaran. wadah kehidupan bersama mewujudkan kebenaran ( satya ) membangun keharmonisan sosial yang dinamis dalam masyarakat.
  • Jana Kertih yaitu ngertiang manusia secara individu untuk membangun lingkungan rohani yang spiritual dan membangun lingkungan sosial yang kondusif.                 

Apa yang telah kami sampaikan tadi mari kita renungkan sebagai rasa  untuk mulai dari sekarang dan selanjutnya untuk tetap menyayangi alam semesta ini dengan menumbuhkembangkan kesadaran untuk melaksanakan yadnya sebagai wujud bhakti kehadapan Hyang Widhi sebagai dasar ungkapan terima kasih atas karunia yang telah diberikan atas kekayaan alam yang tak habis – habisnya, karena itu sorga merupakan pahala bagi mereka yang sungguh – sungguh melestarikan alam selama  hidupnya dibumi, disamping sorga dialam spiritual mereka juga akan mendapatkan kehidupan sejahtera lahir bathin dalam kehidupannya didunia sekala, manfaatkan dengan baik dan tepat guna kekayaan alam yang ada, sehingga generasi berikutnya ikut pula menikmati dengan harapan dimasa mendatang dapat pula menjaga alam ini dengan sebaik – baiknya. (ben)