Opinion

PENGHAYATAN TERHADAP DUNIA KERJA MENURUT PANDANGAN HINDU

194 dilihat

 Oleh :

Dra Ni Luh Kompyang Purnaningsih

NIP : 19661231 200312 2 002

Pangkat/gol : Pembina, IV/a

Jabatan : Penyuluh Agama Hindu Madya

Tempat Tugas : Kantor Kamenterian Agama Kab. Klungkung

 

Bekerja sebagai kewajiban dan sumber penghidupan.

 

          Setiap manusia menyadari bahwa selama dia hidup perlu bekerja, sebab tampa kerja manusia akan mati. Manusia hidup terdiri dari dua komponen yaitu badan jasmaniah dan rohaniah. Yang dimaksud bekerja pada naskah ini yalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan bakat yang sudah dibina sejak kanak-kanak. Dimasyarakat lalu timbul kelompok pekerja yang disebut pegawai sipil, militer, guru, pedagang,rohaniawan, pendeta buriuh, dan lain sebagainya. Tidak satupun kelompok kerja dikatakan buruk atau rendah tingkatannya, bahkan semua dikatakan baik.

 

Didalam begawad githa III.8 disebutkan :

                   “ Bekerjalah seperti telah ditentukan, sebab bekerja lebih baik dari pada tidak bekerja, kalau tidak bekerja hidup sehari-haripun tidak mungkin”.

 

          Dari kutipan diatas dijelaskan bahwa bekerja merupakan kewajiban dan melaksanakan kewajiban itu, kita mempunyai sumber penghidupan sangat banyak jumlahnya dimasyarakat yang penting sekarang, bukan banyak jumlahnya tapi mana yang cocok untuk diri sendiri, sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh masing-masing orang. Maka pekerjaanpun memerlukan kesadaran. Yang dimaksud kesadaran disini yalah kesadaran terhadap Tuhan ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Tampa kesadaran itu kita tidak tahu apa sebenarnya yang menjadi tujuan kita bekerja, untuk siapa kita bekerja, secara singkat dapat dikatakan bahwa pekerjaan itu digarap dengan menegakan darma. Pekerjaan itu akan mendatangkan penghasilan yang halal ia membeli makanan untuk keluarganya, sehingga dapat dikatakan bahwa keluarganya telah makan makanan yang halal.

 

Dalam candogya Upanisad VI.5.4 disebutkan sebagai berikut

                 ” Makanan yang kita makan dirubah menjadi tiga hal, yaitu sebagian besar dari padanya menjadi kotoran, bagian yang lain nya akan menjadi daging, dan bagian yang terhalus menjadi pikiran”.

 

          Cara memperoleh makanan itu sangat penting artinya yaitu bila makanan itu diperoleh dengan cara mencuri, korupsi,(tidak halal), maka makanan tiu akan mempengaruhi pikiran keluarga  tersebut. Demikian pula sebaliknya. Bagi umat hindu yang sadar akan arti penting budi pekerti yang luhur itu, maka ia tidak akan melakukan pekerjaan itu menyimpang dari ketentuan dharma, ia akan melaksanakan pekerjaan itu dengan etos kerja yang tinggi, propesional, sekaligus mengikuti ajaran budi pekerti yang luhur.

 

  1. Kerja sebagai aktivitas bhakti

          Kerja sangat penting artinya dalam kehidupan manusia, namun yang lebih penting adalah bekerja sebagai aktivitas bhakti kepada tuhan.

Dalam Bagawadgitha III. 9. Dikatakan :

                 “ Kecuali bertujuan untuk bhakti, dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja, karenanya bekerjalah demi berbhakti tampa kepentingan pribadi, “ Oh Kunti putra “.

 

          Pada saat ini banyak sekali orang bekerja dalam pamrih, mereka bekerja semata-mata untuk memenuhi nafsu panca indria karena itu mereka diikat oleh dunia material, dan sukar berada dalam kebebasan. Pada tujuan umat beragama hindu yang palin tinggi adalah pelepasan, kebebasan,atau moksa. Degan adanya kenyataan ini maka ilmu yang paling mulia dari suatu kerja adalah bhakti,kepada Tuhan Yang Mah Esa( Ida Sang Hyang Widi Wasa ).

 

  1. Memberimakna sebuah kesuksesan dan kekayaan

          Dewasa ini ada sementara orang yang berpendapat bahwa kesuksesan itu sama dengan kebahagiaan. Bila seseorang itu mencapai kesuksesan pasti hidup dengan bahagia dan orang yang bahagia pasti sukses. Secara material, kesuksesan itu memang tinggi nilainya.

Untuk mencapai sukses ituada tiga faktor yang dominan

  1. Ada idea, mimpi,tujuan.
  2. Ada upaya untuk mencapai tujuan itu, maka muncul prestasi.
  3. Ada efek pengaruh pada dirinya sendiri, keluarga,masyarakat atau bangsa tergantung idea kita yang hendak dicapai.

 

The Liang Gie dalam bukunya :

          “ Strategi hidup sukses “ Menyebutkan ,ada lima unsur yang harus diperjuangkan yaitu kreativitas, progresivitas, integritas,(didalamnya termasuk kejujuran, kebaikan dan kesetiaan), lalu kapabilitas dan terakhir personalitas( pribadi yang tangguh)

 

Apakah dengan kesuksesan dan kekayaannya itu sudah otomatis menjadi bahagia? Jawabanya bisa ya, bisa tidak! Kenapa? Karena jawaban itu tergantung pada dua hal yaitu

  1. Apakah seseorang memperoleh kesuksesan dan kekayaan itu dengan jujur atau tidak
  2. Apakah seseorang itu menyimpang / tidak dari kesadaran rohaniah (spiritual)

 

Seseorang menjalankan dinamika kehidupanya dengan kejujuran dijauhkan dari kebohongan, kecurangan, dan lain sebagainya maka orang itu akan berada dalam kesuksesan dan penuh kebahagian. Bila sebaliknya, maka orang itu akan berada dalam kesuksesan dan kekayaan yang semu. Orang itu pasti tidak akan bahagia karena hati nurani nya selalu diusik kecurangan dan ketidak jujurannya. Kelihatannya memang hidup glamoor, meah namun hatinya tersiksa. Bila kecurangan itu terbuka tercium oleh polisi lalu diproses dalam pengadilan, maka hidupnya seperti di neraka.

Tuntunan Susila Hindu mengatakan, Seuntung-untung orang yang lupa masih lebih untung orang yang ingat ( maksudnya agar menjalani hidup ini mencari kesuksesan, kekayaan dan kemaksyuran dengan berpegang teguh pada penegagakan dharma). Semoga anda berada dalam lindungan darma selalu.

 

  1. Menggapai kehidupan bahagia dengan tri kaya parisudha  

          Banyak jalan dapat dipergunakan untuk mencapai kehidupan yang bahagi dan sejahtra, salah satunya adalah dengan menghayati dan melaksanakan tri kaya parisuda. Tri kaya parisuda adalah suatu upya untuk menyucikan tiga ekemen yang ada pada diri manusia dan merupakan unsur budi pekerti yang luhur.

 

Orang bijaksana mengatakan

           “ Waspadalah terhadap pikiran anda, karena ia akan menjadi kata-kata anda, waspadalah terhadap kata-kata anda karena ia akan menjadi tindakan anda, waspadalah terhadap tindakan anda, karena ia akan menjadi sikapa anda”.

 

Jelas sekali pikiran manusia itu dapat menjadi sumber kebahagiaan atau sekaligus menjadi sumber kesengsaraan, kepapaan, dan sumber neraka. Selain itu dalam diri manusia ada tiga faktor yang sangat penting berbpengaruh yaitu  satwan, rajas tamas (tri guna).

Bagaimana cara menerapkan tri kaya pari suda ditengah tarik menariknya pengaruh tri guna itu, jalan latihan yang patut ditempuh yalah :

  1. Dengan jalan mengedalikan pikiran yang sngat banyak, bahwa pikiran itu sangat kencang jalannya lebih kencang dari anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Bagawadgitha VI.35. Menuntut umat hindu agar melakukan dua hal yaitu:
  2. Melaksanakan abheyasa yaitu ( kebiasaan berpikir baik /positif tengking) dengan menghilangkan rasa irihati, sombong ,serakah dsb
  3. Melaksanakan wairagya yaitu : keiklasan dan perdamian dalam hal ini menolong orang dengan pemikiran dan sekali gus dengan materi secara nyata dan perbuatan kongkrit.
  4. Dengan jalan pemusatan pikiran yang dilandasi dengan kesucian bukan saja berguna untuk meningkatkan sepiritual ( rohaniah ) tetapi juga bermanfaat dalam keihidupan sehari-hari. Penyucian diri dapat dilakukan dengan melaksanakan tapa, brata, yoga dan semadi.

Dalam Silakrama disebutkan sebagai berikut :

                        Tubuh dibersihkn dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran,roh dibersihkan dengan ilmu, dan tapa akal dibersihkan dengan kebijaksanaan

 

Demikianlah penghayatan terhadap dunia kerja menurut pandangan hindu yang diharapkan kelak akan mencapai kehidupan yang berbahagia jasmaniah dan rohaniah, di dunia dan akhirat.

 

KESIMPULAN

          Usaha mengggerakan disiplin hidup berbudaya bersih adalah usaha yang paling tepat untuk pencapain tujuan hidupa beragama yang dirumuskan dalam uanisad yaitu kesejahteraan lahir(jagatdhita) dan kebahagiaan bhatin ( Moksa). Akan kewajiban dengan baik menurut petunujk yang telah ditentukan. Disiplin artinya melaksanakan kewajiban dengan baik menurut yang telah ditentukan. Hal ini ada disebutkan dalam Bhagawat githa XVIII.47. dijelaskan sebagai berikut: “ lebih mulia melakukan kewajiban sendiri walaupun tak sempurna dari pada melakukan tugas orang lain kendatipun sempurna sesungguhnya bila ia laksanakan tugasnya sendiri sesuai dengan sifatnya ia tak berdosa.

          Untuk memahami, menghayati, dan mempraktekan sikap mental positif menurut hindu adalah usaha yang paling tepat untuk mencegah gaya hidup materialistis, egois, konsumtif, yang disebabkan oleh pengaruh tehnologi modern dan harus imformasi serta globalisasi yang melanda dunia. Gaya hidup yang demikian menimbulkan krisis moral, apabila tidak di imbangi dengan mendalami dan menghayati ajaran agama sebagai cermin memahami swardharmanya niscaya kebahagiaan bias terwujud. Oleh karena itu kita harus sadar bahwa segala keberhasilan yang telah kita capai adalah karena rahmat Tuhan ( Ida Sang  Hyang Widhi). Hal ini tak ubahnya seperti keberhasilan seorang dokter menyembuhkan orang sakit. Sebenarnya yang menyembuhkan bukan dokter melainkan Tuhan, Dokter hanya sebagai perantara.

          Maka dari itu tiap-tiap orang mengalami sukses jangan lupa mengucapkan syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hal ini berpijak pada kitab suci Bhagawad githa III. 19 di jelaskan sebagai berikut “ Kalau ada orang bekerja pada sesuatu instansi, seseorang rela berkorban untuk orang lain, maka ia semestinya tidak berharap banyak akan apa yang nanti didapat, tetapi sepatutnya ia berpikir tentang seberapa jauh apa yang telah dikerjakan dan dikorbankannya itu memiliki arti bagi orang lain.. Memang manusia tidak terlepas dari keinginan, tetapi keinginan itu tidak ditempatkan sebagai penentu segala-galanya.

         

 

                               Daftar pustaka :

                                    Silakrama Oleh Drs.I B Oka Puniyatmaja

                                    Bagawadgitha  oleh Gede Puja, MA. SH.

                                    Candogya upanisad

                                    Menjawab pertanyaan umat, oleh Igusti ketut Widana, tahun 1997

                                    Menyorot Aneka Masalah Umat Hindhu, Oleh Igusti Rai Partia, th 1996