Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Pengumuman Baru
  • 15:00 WITA *Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama RI : Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tangungjawab, Keteladanan*
  • 15:00 WITA *Selamat Hari Raya Suci Nyepi Tahun Caka 1941*

PERAYAAN KAMIS PUTIH: MEGOBARKAN KEMBALI SEMANGAT PELAYANAN

PERAYAAN KAMIS PUTIH: MEGOBARKAN KEMBALI SEMANGAT PELAYANAN

Oleh: Yulianus A.Gale, S.Ag

Setiap Kamis sebelum menjelang Hari Raya Paskah, umat Kristiani merayakan Kamis Putih. Perayaan tersebut merupakan salah satu perayaan tri hari suci yaitu Kams Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci. Tri Hari suci ini berada dalam pekan suci  yang dimulai dengan Minggu Palma dan diakhiri dengan Paskah. 

Peristiwa penting yang diperingati pada Hari Kamis Putih adalah Mengenang Perjamuan Malam Terakhir Yesus dengan para murid-Nya. Pada malam itu, Yesus memimpin perjamuan dan membagikan roti dan anggur lambang tubuh dan darah-Nya kepada para murid-Nya. Yesus mengatakan bahwa roti itu adalah tubuh-Nya yang dikurbankan untuk menebus dosa umat manusia, dan anggur itu adalah darah-Nya yang dicurahkan untuk pengampunan dosa. Perjamuan malam terakhir bagi Gereja Katolik  merupakan  saat dimana Yesus sendiri menetapkan Perayaan Ekaristi yang sampai hari ini dirayakan setiap minggu bahkan setiap hari.

Selain Yesus mengadakan Perjamuan Malam Terakhir, ada peristiwa menarik yang dilakukan Yesus terhadap para murid saat itu. Yesus membasuh kaki mereka satu persatu.  Membasuh kaki sebelum perjamuan adalah tradisi khas Yahudi. Yang melakukan tindakan membasuh kaki biasanya adalah tuan rumah atau mereka yang berpredikat hamba. Tidaklah demikian dengan pembasuhan kaki para murid pada perjamuan malam terakhir. Yang membasuh kaki bukanlah tuan rumah atau hamba melainkan Yesus yang adalah Tuhan dan Guru. Lalu ada apa dengan Yesus sehingga ia membasuh kaki para murid?

 Dalam kutipan injil Yohanes dikatakan dengan tagas maksud peristiwa pembasuhan kaki para murid oleh Yesus. 

…..Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yohanes 13:12-15)

Peristiwa Kitab Suci di atas sesungguhnya mau  mempertegas  pengajaran pemuridan. Yesus ingin mengingatkan kembali tentang arti dan makna pelayanan serta cinta kasih kepada sesama. Peristiwa membasuh kaki murid-murid-Nya, sesungguhnya  menunjukkan betapa pentingnya untuk merendahkan diri dan melayani sesama atas dasar kasih. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13: 34). Perintah untuk saling mengasihi ini mendapat implementasi factual justru dalam aksi-aksi pelayanan. Hal ini kemudian diwujudnyatakan oleh Yesus Sang Guru dengan pelayanan kasih-Nya yang paling ultim yaitu mengorbankan diri-Nya sendiri demi keselamatan umat manusia. 

Mengapa pelayanan kasih begitu penting, sehingga Yesus harus memberi contoh melalui peristiwa pembasuhan kaki? Pertama, Pelayanan dalam perspektif Kristianitas, pada hakikatnya merupakan sebuah panggilan untuk mengabdi dan memuliakan Allah serta sesama manusia. Dalam Gaudete et Exsultate Art 3: Seruan apostolik dari Paus Fransiskus yang membahas tentang panggilan umat beriman untuk menjadi orang kudus; Paus Fransiskus menekankan bahwa ….pelayanan adalah bagian dari panggilan untuk menjadi orang kudus, dan semua umat beriman harus melayani sesama dengan penuh kasih sayang dan kerendahan hati. "Pelayanan bukanlah pekerjaan tambahan bagi orang yang ingin menjadi suci; itu adalah panggilan semua umat beriman." 

Kedua, setiap orang kristiani yang dibaptis wajib melaksanakan panca tugas Gereja. Panca tugas gereja adalah tugas menguduskan (Liturgia), tugas mewartakan (Kerygma), tugas bersaksi (Martyria), tugas membangun persekutuan (Koinoni0 dan tugas melayani (Diakonia). Jadi menghidupi aneka perbuatan pelayanan sesungguhnya merupakan ciri khas  Kristianitas atau para pengikut Kristus.

Kemudian ketiga, Evangelii Gaudium Art 4: Seruan  apostolik dari Paus Fransiskus yang membahas tentang panggilan umat beriman untuk memberitakan Injil menegaskan bahwa  pelayanan adalah bagian dari tugas umat beriman untuk memberitakan Injil. Artinya ketika setiap orang kristiani mengambil bagian dalam pelayanan apapun mereka mewartakan kabar baik, kabar yang menggembirakan  kepada siappun yang dilayani.

Selanjutnya Keempat, Dasar dari pelayanan kristiani adalah Kasih. Ensiklik Deus Caritas Est yang dikeluarkan oleh mendiang Paus Benediktus XVI pada artikel 1 menegaskan hal yang sama bahwa “…cinta kasih merupakan landasan dari pelayanan Gereja”.  Selanjutnya ….bahwa pelayanan yang dilakukan  dengan penuh kasih itu tanpa memandang suku, ras, agama, maupun status sosial. Di sini ditegaskan bahwa kasih yang mendasari pelayanan adalah “lintas batas”, tanpa pamrih hingga nyawa menjadi taruhannya. Oleh karena kasih yang menjadi dasar pelayanan adalah keutamaan kristiani yang paling besar selain iman dan harapan (Bdk 1 Kor 13:13).  Jadi sangatlah beralasan bagi Yesus untuk menegaskan arti dan makna pelayanan melalui peristiwa pebasuhan kaki.

Lalu dari peristiwa pembasuhan kaki terbersit juga  aneka  sifat, kharakter dan sikap sebagai pelaku pelayanan atau pelayan. Pertama, Seorang pelayan harus rendah hati, tidak sombong, dan melayani dengan penuh rasa hormat, tulus tanpa pamrih dan rela berkorban; kedua: seorang pelayan harus bijaksana dalam cara dan memberikan pelayanan yang prima serta maksimal bagi orang yang dilayani; ketiga, seorang pelayan selalu sabar dalam melaksanakan tugas pelayanan, terbuka, mampu mendengarkan dan memahami kebutuhan sesama yang dilayaninya; keempat seorang pelayan juga  mampu bekerjasama dengan siapapun dan kapanpun agar pelayanannya berbuah limpah; Kelima, seorang pelayan harus menyadari bahwa tindakan pelayanannya terhadap sesama merupakan perwujudan pengabdiannya kepada Allah. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40)  

Lebih lanjut “Pembasuhan kaki pada perjamuan malam terakhir” juga memiliki pesan yang kuat bagi setiap orang yang hendak menjadi pemimpin, sebagaimana ditegaskan dalam  Markus 10:43-44 "Siapa yang mau menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa yang mau menjadi yang terutama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semua." Perikope ini memberikan pemahaman bahwa meskipun  yang diperoleh dari seorang pemimpin adalah jabatan dan kekuasaan, namun  tugas dan fungsi yang dilaksanakan harus bernafaskan pelayanan jika ingin menjadi pemimpin yang sukses. 

Demikianlah, bagi umat Kristiani Perayaan Kamis Putih antara lain menjadi ajang refleksi tentang arti dan makna Panggilan untuk melayani dengan bercermin pada “Peristiwa Yesus Membasuh Kaki para muridNya”. Selain itu, Kamis Putih juga menjadi kesempatan untuk membaharui semangat pelayanan kristiani dari setiap murid Kristus. Semoga.***

Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar