Opinion

PK, Sang Allien Yang Mencari Tuhan -MOVIE REVIEW-

224 dilihat

Oleh: Tia Sastrina, ST., MM

Penyusun Bahan Siaran dan Pemberitaan Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar

Judul film: PK

Sutradara: Rajkumar Hirani

Penulis: Hirani dan Abhijat Joshi

Produksi: Hirani dan Vidhu Vinod Chopra

Tanggal release: 18 Desember 2014

Pemain: Aamir Khan, Anushka Sharma, Sanjay Dutt, Sushant Singh Rajput

 

 

Bicara masalah agama, bicara masalah sensitif, terlebih lagi bagi India yang merupakan negara sekuler. Namun kali ini Bollywood mempersembahkan sebuah film komedi satir yang penuh dengan filosofi kompleks dan pertanyaan-pertanyaan tentang praktek agama masa kini dari mata sesosok alien bernama PK (akronim dari Peekay/pemabuk). Hal ini merubah pandangan spiritual orang-orang yang telah dibesarkan dalam cara mereka selama beberapa generasi ke dalam kacamata sang alien, bagaimana pesan murni dari Tuhan telah dimanipulasi oleh para pemuka agama yang disebut ‘manajer’ oleh PK sekaligus menggambarkan bagaimana rumitnya sistem kepercayaan di masing-masing agama tersebut. Dibalut oleh kisah sederhana dan manusiawi yang menghadirkan cinta, tawa, dan persahabatan, film ini menjadi lebih ringan untuk disimak.  

 

PK (Amir Khan), sesosok alien yang turun ke bumi dari planet lain ini tanpa tahu cara berkomunikasi dengan orang bumi. PK tersesat setelah seseorang mencuri remote controlnya, benda yang digunakan untuk memanggil pesawatnya agar bisa dijemput kembali ke planetnya. Dalam kebingungan itu PK bertemu banyak orang dan mencoba mengenali cara manusia hidup dan berinteraksi dengan mereka hingga akhirnya bisa memahami bahasa manusia (dalam hal ini bahasa India) dan berkomunikasi dalam bahasa itu.

 

“Hanya Tuhan yang mampu menemukan dimana remote controlmu berada!” Sahut orang-orang atas kebingungannya. Keputusasaan PK dalam menemukan remote controlnya telah membawa PK kepada pertanyaan paling esensial, bahwa siapakah Tuhan dan dimanakah Beliau yang disebut-sebut mampu memecahkan masalahnya tersebut berada? Dia yang dianggap Maha Mengetahui, Dia yang dapat menyelesaikan semua permasalahan, Dia yang dipuja dalam sebuah rumah suci oleh semua orang, dimanakah Beliau berada?

Hal seperti ini tidak pernah ada di planet PK. Dalam pencariannya, PK memasuki tempat ibadah satu persatu, mengikuti setiap ritual ibadah yang dijalankan di tiap tempat ibadah, berusaha merangkai konsep-konsep keagamaan dan konsep-konsep keTuhanan yang dianut oleh manusia di muka bumi ini. Hal ini tentu saja membuat kehebohan manusia yang sudah terbiasa hidup dalam tatanan rapi beragam keagamaan di India. Melalui pertanyaan-pertanyaannya yang lugu namun logis, PK membongkar pemikiran masyarakat tentang Tuhan, berbagai ritual keagamaan dan celoteh pemuka agama dipertanyakannya, hanya demi menemukan keberadaan Tuhan.

Atas semua yang telah dilaluinya, PK menyimpulkan bahwa Tuhan punya banyak nama, Tuhan punya banyak wajah, Tuhan punya banyak jalan. Akan tetapi walaupun PK telah mengikuti semua jalanNya, Tuhan masih juga belum ditemukan, PK tidak mengerti apa yang diinginkanNya. PK mempertanyakan rupa dan sifat Tuhan, benarkah Tuhan sekejam itu? Membuat manusia saling berselisih atas namaNya? Memaksa manusia melakukan ritual agama yang menyusahkan dan menyakiti diri hanya untuk bertemu denganNya? Kenapa Tuhan malah menyusahkan manusia yang ingin berkeluh kesah kepadaNya?

Pencarian PK berakhir pada perdebatan dengan seorang pemuka agama yang bernama Tuan Tapaswi (seseorang yang ternyata menadah remote controlnya dari seorang pencuri dan menyebutnya pemberian dari Tuhan). Atas semua pernyataan Tuan Tapaswi, PK menarik sebuah kesimpulan bahwa Tuhan itu ada dua, satu Tuhan yang menciptakan kita semua, dan satu lagi Tuhan yang diciptakan oleh manusia. Tuhan yang menciptakan kita dan alam semesta ini tidak pernah kita tahu sosoknya, sementara Tuhan yang diciptakan oleh manusia sosoknya sama seperti manusia. Kadang menipu, suka berbohong dan menakut-nakuti. Hal ini merupakan pukulan telak bagi Tuan Tapaswi, sehingga para pengikutnya pun mempertanyakan kembali ajaran-ajarannya.

Konsep wrong number/salah sambung yang diisukan PK merupakan kritik utama film ini terhadap para pemuka agama yang menggunakan agama dan Tuhan sebagai alat bisnis. Mereka mengutip kitab suci, bahkan mengaku mendengar suara Tuhan untuk menakut-nakuti umat dan menggemukkan pundi-pundi mereka. 

 

Sebelum akhirnya membongkar kebohongan Tuan Tapaswi, PK memberikan pesan yang sangat mengena ‘untuk berhenti membela Tuhan’, Tuhan tidak perlu di bela hingga kita bertikai. Kita, dunia ini, di tempat duduk ini sangatlah kecil dibandingkan dengan semesta ini. Tuhan mampu membuat segalanya berjalan. Kita terkadang terlalu arogan, merasa lebih pantas menghakimi manusia lain ketika bicara mengenai agama daripada Tuhan itu sendiri, seolah-olah merasa perpanjangan tangan Tuhan.

 

Bila diperhatikan lagi, segala sumber inspirasi dari sebuah karya adalah Tuhan, disadari atau tidak, kisah ini pun telah direstui olehNya. Seperti yang diinginkan penulis, tokoh PK datang untuk mempelajari kehidupan manusia di bumi ini. Diawali dengan “kehilangan remote control”, alur ini membawa PK dan seluruh pemirsa memahami pelajaran utama di dunia ini, bahwa kehidupan ini adalah penderitaan (samsara) yang harus dilalui sepenuh hati dijalanNya. Segala suka dan duka yang dihadapi janganlah sampai merubah kita, tetaplah menjadi manusia yang baik, benar, dan penuh cinta kasih.

 

Meskipun banyak menuai kontroversi, kritik dalam film PK bersifat umum, bisa terjadi pada agama dan aliran kepercayaan manapun. Film ini mengajak kita untuk lebih melihat ke dalam diri kita, untuk memahami kembali ajaran-ajaran agama kita masing-masing, sehingga bisa menuntun kita untuk tetap berada di jalan yang benar, tidak ada lagi perpecahan atas nama agama, tidak ada lagi kekerasan atas nama agama, tidak ada lagi pemaksaan kepentingan atas nama agama, yang harus ada adalah bhakti kepadaNya dan cinta kasih kepada seluruh ciptaanNya. (sta)