Opinion

REVOLUSI MENTAL ( Nehemia 1: -2:8 )

205 dilihat

Oleh : Made Narawati, S.Th
Penyuluh Agama Kristen Muda pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kalimat “revolusi mental”. Banyak yang tidak terlalu paham, tidak paham artinya, Revolusi adalah Perubahan ketatanegaraan, pemerintahan atau keadaan social yang dilakukan dengan jalan kekerasan (KBBI, Drs. Suharso : 2005 ), ada lagi pengertian lainnya misal; Revolusi adalah perubahan social dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat, sedangkan mental artinya keadaan batin, cara berfikir dan perasaan. (KBBI. Drs. Suharso : 2005 ), dalam ilmu psikologi berarti jiwa atau kejiwaan ). Bahasa latin Revolutio artinya berputar arah. Mental atau mentalitas artinya cara berfikir atau kemampuan untuk berfikir, belajar dan merespon terhadap suatu situasi atau kondisi.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama, demikian halnya dengan anggapan para antropolog Kultural bahwa “spiritualitas seseorang adalah buah dari aktivitas ritualnya“. Dari sudut Kultural, ritus dan peribadatan adalah kesempatan, dimana orang menjalin hubungan baik dengan kelompoknya maupun realitas sosialnya. Disitu pula letak hubungan antara spiritualitas dan kekuasaan.
Ahli Kitab Suci Afrika Selatan, William Domeris, mengungkapkan datanglah kerajaan-Mu adalah sebuah doa revolusioner. Dengan ungkapan “ datanglah Kerajaan-Mu “ harapan berakhirnya segala bentuk penindasan zaman ini, dan seperti diajakkan Yesus, bersama –sama mengusahakan tegaknya kerajaan baru sebagai realitas fisik dimana penindasan diakhiri dan pembebasan Tuhan dimulai. Mereklamasikan “kedatangan kerajaan Tuhan” adalah melantunkan spirit melawan ketidakadilan namun bukan dengan perlawanan fisik. Penghayatan inilah yang akan kita kaitkan dengan Revolusi Mental dimana sebuah keadaan akan berubah diawali dari perubahan cara berfikir dan merespon sesuatu.
Penggunaan istilah “ revolusi “ bukan hal yang berlebihan. Indonesia memerlukan suatu terobosan budaya politik untuk memberantas setuntas-tuntasnya segala praktik-praktik yang buruk yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh kembang sejak zaman Orde Baru sampai sekarang. Revolusi mental berbeda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun usaha ini tetap memerlukan dukungan moril dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin dan selayaknya setiap revolusi diperlukan pengorbanan atau kerelaan.
Revolusi Mental memang identik dengan gagasan dari Presiden Jokowi. Padahal tahukah kita bahwa Revolusi Mental sudah tersirat juga tersurat dalam kisah perjalanan para tokoh Alkitab. Lalu apa pandangan Revolusi Mental versi Alkitab?
Berangkat dari perjalanan iman seorang Nehemia yaitu salah satu tokoh Perjanjian Lama juga rumusan dari doa yang Yesus ajarkan. Bagaimana kita menginginkan keadaan social yang baik, sesungguhnya bermula dari masing-masing kita merenungkannya lalu menerapkan.
Pemimpin adalah orang yang mampu menggunakan pengaruh yang ia miliki untuk menghasilkan dampak positif. Untuk itu, ia harus memiliki kelebihan-kelebihan. Kelebihan tersebut memperoleh pengakuan dan kepercayaan dari orang lain, baik itu pengikut, atasan maupun rekan-rekannya. Tanpa kepercayaan tersebut, seorang pemimpin tidak akan mudah menyalurkan pengaruhnya.
Nehemia adalah seorang tokoh Alkitab yang sangat mengesankan. Tokoh ini hidup di abad kelima sebelum Masehi (s.M), saat dimana kaisar Arthasasta berkuasa di Persia. Pada masa itu bangsa-bangsa besar menaklukkan bangsa yang lebih kecil. Kebiasaan bangsa-bangsa penakluk ini bukan hanya mengalahkan bangsa yang lemah, membunuh rajanya dan memporakporandakan hidup ekonomi mereka, tetapi juga mengambil orang-orang terpandang dan pandai dari bangsa itu, serta memindahkan mereka ke negeri sang penakluk.
Nehemia adalah seorang juru minuman raja. Posisi ini bukan sembarangan. Juru minuman raja haruslah orang yang dipercaya karena mereka bisa meracuni raja sampai mati. Nehemia adalah seorang Yahudi, seorang buangan tetapi ia dipercaya untuk melayani raja Persia yang berkuasa saat itu. Mengapa? Pasti Nehemia merupakan seorang yang memiliki prestasi yang dihargai ditengah-tengah zaman pembuangan. Nehemia tetap setia kepada Tuhan ditengah-tengah keterpurukan. Nehemia percaya apapun yang terjadi Tuhan tetap menyertai. Sikap dan Tindakan Nehemia  nampak ketika ia mendengar kadaan Yerusalem negeri asalnya begitu susah dan dipermalukan. Nehemia adalah salah seorang pemimpin yang menginspirasikan dalam Alkitab. Kepribadian seorang Nehemia adalah kepribadian yang berkarakter dan berkualitas. Nehemia seorang yang tekun berdoa, hal tersebut menunjukkan kerendahan hati, sungguh-sungguh mengakui dan menyerahkan kepada Allah selaku pemegang kedaulatan tertinggi. Akhirnya Nehemia menjadi seorang yang memiliki keberanian dalam menghadapi bahaya, peduli dan bertanggung jawab kepada kesejahteraan orang lain, memiliki visi dan dapat mengambil keputusan yang jelas.
Sama halnya dengan permasalahan yang terjadi di Negara ini, bukankah kitapun salah satu yang menginginkan perubahan yang baik untuk negeri ini? Seperti seorang Nehemia yang mengupayakan pembangunan tembok Yerusalem secara fisik adalah dimulai dari pembentukan karakter yang mau merenovasi mentalitas diri masing-masing dan berintegritas ( Roma 12:2 ) berubahlah oleh pembaharuan budimu. Menjadi perpanjangan tangan Tuhan di tengah dunia mengupayakan kedamaian dan kesejahteraan bersama ( Matius 6:10 “ datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga “ ).
Lima budaya kerja Kementerian Agama digulirkan seiring dengan upaya perwujudan program Revolusi Mental yang didengungkan oleh Presiden Joko Widodo. Lima budaya kerja yang diterapkan di Kementerian Agama adalah upaya untuk mencegah terjadinya tindakan yang menyalahi aturan termasuk korupsi. Lima budaya Kementerian Agama itu adalah Integritas (kesesuaian antara ucapan dan perbuatan), Profesionalitas (mencerminkan kompetensi dan keahlian), Inovasi (jangan terjebak rutinitas/monoton), Tanggung jawab (harus bertanggung jawab atas pekerjaan), Keteladanan (teladan dan contoh baik dari cara berbicara, cara berpakaian dan dalam pekerjaan).
Meski air laut terasa asin, tetapi tidak dengan ikannya. Laut diperandaikan seperti dunia yang sudah cemar, ikan diperandaikan umat Tuhan yang terpanggil dan seharusnya tidak tercemar oleh dunia dan kecurangannya.
Taburlah Sebuah Pikiran, Maka Anda akan Menuai  Sebuah Tindakan, Taburlah Sebuah Tindakan Maka Anda akan menuai sebuah Kebiasaan, Taburlah Sebuah Kebiasaan maka anda akan Menuai sebuah Karakter. Taburlah Sebuah Karakter Maka Itulah Nasib Anda, Itulah Anda yang sebenarnya.
“Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan.” ~ Aristoteles