Oleh Yulianus A. Gale S.Ag. (Penyuluh Agama Katolik)
Dunia kita kerap mengukur cinta cinta sebagai sesuatu yang harus dibalas. Namun, Kisah Sengsara Yesus yang direnungkan pada Perayaan Jumat Agung menghadirkan yang mengejutkan sekaligus mengguncang cara pandang manusia. Bahwa cinta tetap diberikan meskipun tidak dibalas. Sengsara dan wafat Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa tragis, melainkan pewahyuan terdalam tentang Allah yang mengasihi tanpa syarat. Di Golgota, cinta itu tampak seperti “bertepuk sebelah tangan”: Allah memberi diri sepenuhnya, sementara manusia justru menolak, mengkhianati, bahkan menyalibkan. Namun justru di sanalah misteri keselamatan menemukan kepenuhannya.
Yesus datang ke dunia membawa kasih yang menyembuhkan dan memulihkan. Ia merangkul yang tersingkir, mengampuni yang berdosa, dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah manusia. Namun kitab suci mencatat kenyataan pahit: “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (lih. Yohanes 1:11). Terang hadir di dunia, tetapi manusia sering lebih mencintai kegelapan daripada terang.
Penolakan itu berkembang menjadi permusuhan yang nyata. Orang banyak yang dahulu bersorak “Hosanna”, kini berteriak, “Salibkan Dia!” (Lukas 23:21). Para murid pun tercerai-berai; Yudas mengkhianati, Petrus menyangkal. Dalam kesendirian yang mendalam, Yesus tetap melangkah menuju salib. Ia tidak mundur, sebab kasih-Nya tidak ditentukan oleh tanggapan insani manusia.
Di taman Getsemani, Yesus memperlihatkan pergulatan batin-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” (Matius 26:39). Namun Ia menutup doa itu dengan penyerahan total: “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Di sini tampak bahwa cinta sejati adalah cinta yang taat, bukan cinta yang menuntut balasan.
Sengsara Yesus memperlihatkan wajah dosa manusia. Seperti ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1851) bahwa dosa adalah penolakan terhadap kasih Allah. Dalam salib, manusia melihat konsekuensi dari penolakan itu: cinta dibalas dengan kebencian, kebaikan dibalas dengan kekerasan.
Namun justru dalam situasi itulah kasih Allah semakin nyata. Rasul Paulus menulis, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Kasih Allah tidak menunggu manusia menjadi baik; Ia mengasihi lebih dahulu. Bahkan, Para Bapa Gereja sejak awal telah merenungkan misteri ini. Agustinus dari Hippo menulis: “Allah mengasihi kita bukan karena kita baik, tetapi supaya kita menjadi baik.” Cinta Allah mendahului pertobatan manusia; Ia mengasihi bahkan ketika manusia belum layak.
Dokumen Gaudium et Spes menegaskan bahwa misteri manusia menjadi terang dalam misteri Kristus (GS 22). Dalam Yesus yang tersalib, manusia melihat kebenaran tentang dirinya: makhluk yang dicintai tanpa batas, namun juga mampu menolak cinta itu. Nabi Yesaya juga telah menubuatkan penderitaan Sang Hamba Tuhan: “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita” (Yesaya 53:5). Nubuat ini menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus yang memikul dosa manusia.
Athanasius dari Aleksandria menegaskan, “Ia menjadi manusia supaya kita menjadi ilahi.” Dalam sengsara-Nya, Kristus tidak hanya menanggung penderitaan manusia, tetapi juga mengangkat manusia kepada kehidupan ilahi. Ini adalah cinta yang memberi diri secara total. Di puncak penderitaan-Nya, Yesus berseru, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Kata-kata ini menunjukkan bahwa kasih Allah tidak berhenti pada penolakan manusia. Ia terus mengalir sebagai pengampunan. Kemudian, Yohanes Krisostomus mengungkapkan, “Salib adalah mimbar kasih, di mana Kristus mengajar dunia tentang cinta yang sejati.” Dari kayu salib, Yesus tidak hanya menderita, tetapi juga “mengajar” dengan tindakan nyata tentang kasih yang tanpa syarat. Lebih lanjut, Ensiklik Deus Caritas Est menegaskan bahwa kasih Allah adalah agape, kasih yang memberi diri tanpa pamrih. Kasih ini tidak tergantung pada apakah manusia membalas atau tidak. Irenaeus dari Lyon menulis, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, dan hidup manusia adalah melihat Allah.” Dalam terang salib, manusia menemukan kehidupan sejati justru ketika ia membuka diri terhadap kasih Allah yang tersalib.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering gagal mencintai seperti Kristus. Kita cenderung mencintai mereka yang mencintai kita kembali. Namun salib mengajarkan cinta yang berbeda: cinta yang tetap setia, bahkan ketika tidak dihargai.
Allah tetap menghormati kebebasan manusia. Ia tidak memaksa manusia untuk membalas kasih-Nya. Bahkan ketika manusia menolak, Allah tetap setia mencintai. Inilah misteri cinta yang tampak “bertepuk sebelah tangan”.
Namun cinta itu tidak pernah sia-sia. Salib bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan. Dalam kebangkitan, Allah menunjukkan bahwa kasih lebih kuat daripada dosa dan kematian. Di sini, sengsara dan wafat Yesus menjadi undangan untuk bertobat. Kita diajak untuk menyadari bahwa sering kali kita pun menolak kasih Allah dalam hidup kita, tetapi selalu ada kesempatan untuk kembali.
Demikianlah, di kaki salib, manusia dihadapkan pada misteri cinta yang tak terselami ini: cinta yang tetap memberi, meski ditolak; cinta yang tetap mengampuni, meski disakiti. Sengsara dan wafat Yesus mengundang setiap orang untuk tidak hanya mengagumi cinta itu, tetapi juga menghidupinya. Sebab dunia tidak berubah oleh cinta yang menunggu balasan, melainkan oleh cinta yang berani memberi diri tanpa syarat, cinta yang meski tampak bertepuk sebelah tangan, justru memiliki kekuatan untuk menyelamatkan. Semoga.***
Informasi Penting
-
- 22:18 WITA
- 12 Mar 2026
- Provinsi
-
- 12:08 WITA
- 04 Mar 2026
- Provinsi
-
- 20:18 WITA
- 27 Peb 2026
- Provinsi
-
- 20:59 WITA
- 18 Peb 2026
- Provinsi
-
- 11:09 WITA
- 18 Peb 2026
- Provinsi
Lihat Informasi lainnyaDaftar Rumah Ibadah Ramah Pemudik Provinsi Bali Tahun 2026
SE Sekjen Kemeterian Agama Nomor 5 Tahun 2026 Tentang Penyesuaian Tugas Kedinasan Bagi Pegawai ASN Kemenag pada Masa Libur Nasional dan Cuti Bersama Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idulfitri
Seruan Bersama Tentang Pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948/Tahun 2026 yang Bertepatan dengan Malam Takbiran Idulfitri Tahun 1447 Hijriah/ 2026 Masehi
SE Sekjen Kemenag Nomor 4 Tahun 2026 Tentang Jam Kerja Pegawai Kementerian Agama Pada Bulan Ramadan 1447 Hijriah
Jadwal Imsakiyah Provinsi Bali 2026