Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Pengumuman Baru
  • 15:00 WITA *Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama RI : Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tangungjawab, Keteladanan*
  • 15:00 WITA *Selamat Hari Raya Suci Nyepi Tahun Caka 1941*

Hadiri Seminar Nyepi, Kakanwil Kemenag Provinsi Bali Ajak Umat Menjaga Persatuan dan Keharmonisan

Hadiri Seminar Nyepi, Kakanwil Kemenag Provinsi Bali Ajak Umat Menjaga Persatuan dan Keharmonisan Kakanwil I Gusti Made Sunartha menyampaikan sambutan dalam Seminar

Denpasar (Kemenag) — Wacana perubahan pelaksanaan Rahina Tegak Tawur Kesanga dan Hari Suci Nyepi menjadi perhatian serius umat Hindu di Bali. Menyikapi dinamika tersebut, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali menggelar Seminar Nyepi pada Jumat (9/1/2026) di Aula Gedung PHDI Provinsi Bali, yang dihadiri para sulinggih, pandita, serta tokoh agama Hindu dari berbagai wilayah.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, turut memenuhi undangan tersebut dan hadir didampingi Kepala Bidang Urusan Agama Hindu serta Kepala Bidang Pendidikan Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Bali. Kehadiran Kemenag menegaskan peran negara dalam mengawal kehidupan keagamaan agar tetap selaras dengan ajaran sastra dan nilai-nilai luhur Hindu.

Seminar ini digelar sehubungan dengan berkembangnya diskursus di tengah umat Hindu mengenai usulan pemajuan Rahina Tegak Tawur Kesanga sehari sebelum Tilem Kesanga, serta penggeseran Hari Suci Nyepi tepat pada Tilem Kesanga. Wacana tersebut memunculkan beragam pandangan dan desakan agar PHDI memberikan penjelasan serta sikap resmi sebagai pedoman umat. Forum ini sekaligus menjadi ruang pemaparan dasar-dasar sastra yang bersumber dari Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I–IX PHDI Pusat tertanggal 27 Januari 1983.

I Gusti Made Sunartha dalam sambutannya menegaskan bahwa Bali memiliki posisi strategis dalam kehidupan umat Hindu Indonesia. “Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama merupakan cerminan keberagamaan Hindu di Nusantara. Berdasarkan data tahun 2022, sekitar 86,79 persen umat Hindu berada di Bali. Artinya, apa yang terjadi di Bali sangat berpengaruh terhadap wajah Hindu secara nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran pemerintah tidak semata-mata pada aspek administratif. “Sebagai pemerintah, kami berkewajiban mengawal substansi ajaran, praktik, dan tata kelola kehidupan beragama agar tetap sejalan dengan nilai-nilai luhur sastra agama. Negara hadir untuk menjembatani kepentingan dan menjaga keharmonisan umat,” tegasnya.

Sunartha juga mengingatkan bahwa dalam Weda diajarkan pentingnya keselarasan pikiran, ucapan, dan tindakan. Oleh karena itu, setiap persoalan keagamaan harus disikapi melalui dialog dan musyawarah. “Praktik keagamaan tidak boleh semata-mata mengikuti kebiasaan, jika kebiasaan tersebut bertentangan dengan sastra,” katanya.

Menurutnya, tantangan Hindu di Bali saat ini adalah ketika kebiasaan yang telah lama berjalan justru mengalahkan tuntunan sastra. Untuk itu, ia mengajak seluruh umat agar setiap praktik keagamaan dikaji secara komprehensif melalui empat aspek utama, yakni aspek historis, landasan sastra, tujuan dan makna, serta dampak sosialnya bagi keharmonisan umat.

“Kekayaan tafsir budaya melalui lontar-lontar Bali adalah anugerah, namun harus terus dikaji agar tidak kehilangan roh ajaran dasarnya. Kita juga perlu memahami secara jernih perbedaan antara hari suci dan hari raya, yang kerap disatukan tanpa kajian mendalam,” jelasnya.

Sebagai bagian dari Parisada sekaligus representasi pemerintah, Sunartha menegaskan bahwa negara tidak mencampuri keyakinan umat. “Negara hadir bukan untuk mengintervensi keyakinan, tetapi untuk memastikan pelaksanaan agama tetap berada dalam koridor sastra dan kebijaksanaan,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip ajaran Weda yang relevan dengan situasi umat saat ini, tentang bekerja sungguh-sungguh demi tanah air, menghormati perbedaan keyakinan, memandang sesama sebagai satu keluarga, serta menebarkan kasih sayang tanpa batas. “Jika prinsip-prinsip ini dijalankan, kesejahteraan akan mengalir bagaikan ribuan sungai, membawa kebaikan bagi generasi kini dan mendatang,” ungkapnya.

Pesan tersebut, lanjutnya, sangat penting dalam proses pengambilan keputusan bersama. Menjaga persatuan umat Hindu di tengah beragam paham bukanlah hal mudah, namun hanya dapat diwujudkan melalui kerja keras, saling menghormati, dan cinta kasih yang tulus.

Menutup sambutannya, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Bali berharap seminar ini tidak berhenti pada tataran wacana. “Saya berharap melalui forum ini lahir rumusan yang jelas dan implementasi nyata, yang benar-benar bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Seminar Nyepi ini diharapkan menjadi ruang edukasi, refleksi, dan pemersatu umat Hindu dalam menyikapi dinamika keagamaan secara bijak, berlandaskan sastra, serta tetap menjunjung tinggi keharmonisan sosial dan kebangsaan.(sn)


Sumber: Kontributor


Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar