Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Pengumuman Baru
  • 15:00 WITA *Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama RI : Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tangungjawab, Keteladanan*
  • 15:00 WITA *Selamat Hari Raya Suci Nyepi Tahun Caka 1941*

Gianyar Menuju Harmoni dan Kemandirian Pendidikan, Ini Pesan Tegas Kakanwil Kemenag Provinsi Bali

Gianyar Menuju Harmoni dan Kemandirian Pendidikan, Ini Pesan Tegas Kakanwil Kemenag Provinsi Bali Kakanwil IGM Sunartha

Gianyar (Kemenag) - Upaya memperkuat kualitas pelayanan keagamaan dan membangun harmoni sosial yang berkelanjutan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar menggelar kegiatan Pembinaan ASN sekaligus Silaturahmi dengan Para Tokoh Agama, Rabu (4/1/2026), bertempat di Kantor Kemenag Kabupaten Gianyar.

Kegiatan strategis ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made (IGM) Sunartha, sebagai bentuk komitmen Kanwil Kemenag Provinsi Bali dalam mendorong sinergi lintas lembaga dan penguatan kerukunan umat beragama di daerah.

Kakanwil IGM Sunartha dalam sambutannya menegaskan bahwa menjaga kerukunan bukan sekadar tugas formal, melainkan tanggung jawab moral bersama antara pemerintah dan tokoh agama. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi lintas lembaga sebagai fondasi utama dalam merawat keberagaman di Kabupaten Gianyar.

“Kerukunan umat beragama tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus dibangun bersama melalui kerja sama yang tulus antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan seluruh pemuka agama,” tegas IGM Sunartha.

Ia secara khusus mengapresiasi peran strategis Sekretariat Bersama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), MUI, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), WALUBI, Majelis Paripurna Umat Katolik (MPUK), Lembaga Dharmagita (LBDG), Badan Wakaf Indonesia (BWI), serta Baznas Gianyar yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga harmoni sosial.

Kakanwil mengingatkan bahwa merawat kerukunan memang memerlukan biaya, tenaga, dan kesabaran. Namun, ia menegaskan bahwa harga yang harus dibayar jika terjadi konflik jauh lebih besar.

“Merawat kerukunan memang membutuhkan biaya dan upaya, tetapi akan jauh lebih mahal jika kita harus membayar akibat konflik antarumat beragama,” ujar Kakanwil dengan nada tegas.

Mengutip ajaran Atharvaveda, IGM Sunartha menggarisbawahi empat nilai utama yang harus menjadi pedoman hidup bersama: kerja keras, komunikasi dan koordinasi yang baik, saling menghormati perbedaan, serta cinta kasih.

Ia juga menekankan pentingnya adaptasi pendekatan pembinaan keagamaan oleh penyuluh agama dan aparatur Kemenag terhadap karakter generasi milenial dan Gen Z yang lebih kritis, logis, dan berbasis data.

“Pendekatan kita tidak bisa lagi konvensional. Generasi muda membutuhkan penjelasan yang rasional, dialogis, dan relevan dengan tantangan zaman,” katanya.

Di akhir bagian kerukunan, Kakanwil menyampaikan pesan kebangsaan yang kuat bahwa perbedaan agama, bahasa, dan budaya bukanlah penghalang persatuan, selama semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk hidup damai dalam bingkai kebhinnekaan.

Visi Besar Pendidikan: Widyalaya Negeri dan Akademi Mahawidya Bali

Selain isu kerukunan, Kakanwil juga menyampaikan perkembangan strategis terkait rencana pendirian Widyalaya Negeri, yang akan diawali dengan Madyama Widyalaya. Ia menjelaskan bahwa seluruh persiapan teknis telah rampung dan saat ini hanya menunggu rekomendasi resmi dari Bupati Gianyar.

IGM Sunartha mengungkapkan bahwa di Negara telah diperoleh hibah bangunan dan tanah dari tiga SD yang digabungkan, dengan dukungan penuh Pemerintah Daerah. Bahkan, Pemda Gianyar berkomitmen menyiapkan lahan tambahan jika diperlukan.

Menariknya, Kakanwil juga menyebutkan bahwa ia memiliki lahan pribadi seluas sekitar 5,2–5,3 hektare yang siap mendukung pengembangan lembaga pendidikan tersebut.

Ke depan, ia memiliki mimpi besar untuk mewujudkan Akademi Mahawidya Bali sebagai pusat pendidikan vokasi berbasis keilmuan, sastra, dan spiritualitas Hindu Bali.

“Selama kita berjalan di jalan dharma, saya yakin Tuhan akan membuka jalan. Pengalaman saya merintis pasraman formal pertama di Papua yang kini berkembang menjadi TK, SMP, dan pasraman adalah bukti bahwa niat baik akan selalu mendapat dukungan semesta,” ujar Kakanwil penuh keyakinan.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan kreatif dalam pembiayaan pendidikan, termasuk penyusunan proposal yang inovatif dan strategis untuk menarik dukungan berbagai pihak.

Kegiatan Pembinaan ASN dan Silaturahmi Tokoh Agama ini menjadi momentum penting bagi Kemenag Gianyar dan Kanwil Kemenag Bali untuk memperkuat tata kelola pelayanan keagamaan, memperkokoh kerukunan umat beragama, serta mendorong transformasi pendidikan keagamaan yang lebih inklusif, modern, dan berdaya saing.(sn)


Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar