Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Pengumuman Baru
  • 15:00 WITA *Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama RI : Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tangungjawab, Keteladanan*
  • 15:00 WITA *Selamat Hari Raya Suci Nyepi Tahun Caka 1941*

Hilal Tak Terlihat di Bali, Kakanwil Tegaskan: “Kita Jaga Akurasi Ilmiah dan Harmoni Umat” — Ini Penjelasan Lengkapnya

Hilal Tak Terlihat di Bali, Kakanwil Tegaskan: “Kita Jaga Akurasi Ilmiah dan Harmoni Umat” — Ini Penjelasan Lengkapnya Kakanwil IGM Sunartha memantau penampakan hilal

Badung (Kemenag) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali melalui Bidang Bimbingan Masyarakat Islam melaksanakan pemantauan rukyatul hilal awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026) di Pantai Sekeh, Tuban, Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut surat Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Ditjen Bimas Islam Nomor B-1/Dt.III.I/HK.03.02/01/2026 tanggal 13 Januari 2026 tentang Rukyatul Hilal Awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah 1447 H.

Pemantauan dilakukan dari satu titik lokasi dan hasilnya akan dilaporkan sebagai bagian dari data nasional dalam Sidang Isbat Kementerian Agama RI guna menetapkan awal Ramadan 1447 H.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, turut hadir langsung memantau proses rukyat bersama unsur Pengadilan Tinggi Agama, Pengadilan Agama Kabupaten Badung, BMKG Wilayah III Bali, Majelis Ulama Indonesia, organisasi kemasyarakatan Islam, jajaran Kanwil Kemenag Provinsi Bali, serta Tim Hisab dan Rukyat.

Dalam keterangannya kepada media, IGM Sunartha menyampaikan apresiasi atas sinergi lintas lembaga yang terjalin dalam pelaksanaan rukyatul hilal.

“Pemantauan hilal hari ini dilaksanakan sesuai dengan tugas yang diberikan, dan seluruh hasil pengamatan akan kami laporkan apa adanya kepada pemerintah pusat. Penetapan awal bulan Ramadan bukan kewenangan daerah, melainkan diputuskan melalui sidang isbat di tingkat pusat. Tugas kami adalah memastikan proses pemantauan berjalan profesional, akurat, dan transparan,” tegasnya.

Secara Hisab, Hilal Mustahil Terlihat

Berdasarkan data BMKG Wilayah III, tinggi hilal saat matahari terbenam berada pada posisi minus 1,219 derajat dengan sudut elongasi 1,70 derajat. Angka ini masih berada di bawah kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Mewakili BMKG Wilayah III Bali, Salman Alfaridzi menjelaskan bahwa secara astronomis, konjungsi (ijtimak) terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 20.01 WITA. Sementara saat matahari terbenam pukul 18.44 WITA, bulan telah lebih dahulu terbenam pada pukul 18.39 WITA.

“Ketinggian hilal tercatat -1,218 derajat dengan elongasi 1,70 derajat dan fraksi iluminasi 0 persen, sehingga hilal berada di bawah ufuk dan secara hisab dinyatakan tidak mungkin terlihat,” jelasnya.

Secara posisi, hilal berada di sebelah kiri bawah matahari (relatif di selatan matahari). Kondisi cuaca di lokasi pengamatan juga sangat berawan dan ufuk tertutup awan tebal, sehingga secara teknis pengamatan dinyatakan mustahil.

Namun demikian, berdasarkan perhitungan untuk 18 Februari 2026, ketinggian hilal diperkirakan mencapai 8,05 derajat, yang secara parameter astronomis telah memenuhi kriteria visibilitas, dengan catatan kondisi cuaca mendukung.

Secara hisab, 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026. Meski demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil rukyat nasional dan Sidang Isbat Kementerian Agama RI.

Edukasi Publik: Ilmiah, Hati-Hati, dan Menjaga Persatuan

IGM Sunartha menegaskan bahwa rukyatul hilal bukan sekadar agenda rutin, melainkan proses ilmiah dan syar’i yang menuntut kehati-hatian serta kolaborasi banyak pihak.

“Melalui kegiatan ini, kita menegaskan pentingnya akurasi ilmiah, kehati-hatian, serta kebersamaan dalam menetapkan awal bulan kamariah. Semua dilakukan demi menjaga persatuan umat dan memberikan kepastian kepada masyarakat,” ujarnya.

Terkait kendala cuaca, ia menjelaskan bahwa peralatan optik tidak dapat menembus awan tebal sehingga penjelasan teknis tetap mengacu pada data BMKG. Apabila hilal belum terlihat, pemantauan akan dilakukan kembali sesuai arahan BMKG. Lokasi rukyat pun akan terus dikaji dan dievaluasi untuk memastikan efektivitas pengamatan di masa mendatang.

Pesan Harmoni Menyikapi Potensi Berhimpit dengan Nyepi

Menjawab pertanyaan media mengenai kemungkinan berhimpitnya Idulfitri dengan Hari Raya Nyepi, IGM Sunartha mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga harmoni dan komunikasi yang baik.

“Apabila terdapat momentum yang berhimpit dengan perayaan keagamaan lainnya, mari kita kedepankan sikap saling menghormati dan menjaga harmoni. Bali adalah contoh nyata kehidupan umat beragama yang rukun dan penuh toleransi,” pesannya.

Kehadiran seluruh Kepala Bidang dan Pembimas di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Bali pada rukyatul hilal kali ini, yang berbeda dari tahun sebelumnya, menjadi simbol kuat kebersamaan dan komitmen harmoni lintas unsur.

Hasil pemantauan di Bali ini akan menjadi bagian dari data nasional yang dipertimbangkan dalam Sidang Isbat Kementerian Agama RI. Masyarakat diharapkan menunggu pengumuman resmi pemerintah dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

Dengan semangat kolaborasi, transparansi, dan moderasi beragama, Kementerian Agama Provinsi Bali berkomitmen terus menghadirkan pelayanan keagamaan yang akurat, menyejukkan, dan mempersatukan.(sn)


Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar