Please ensure Javascript is enabled for purposes of website accessibility
Pengumuman Baru
  • 15:00 WITA *Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama RI : Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tangungjawab, Keteladanan*
  • 15:00 WITA *Selamat Hari Raya Suci Nyepi Tahun Caka 1941*

Vihara Dhamma Ratana Diresmikan di Bangli, Simbol Harmoni Lintas Iman dan Kebangkitan Spiritualitas Bali

Vihara Dhamma Ratana Diresmikan di Bangli, Simbol Harmoni Lintas Iman dan Kebangkitan Spiritualitas Bali Foto by Sania

Bangli (Kemenag) — Semangat persatuan, harmoni lintas budaya, dan kebangkitan spiritual kembali ditegaskan melalui peresmian Vihara Dhamma Ratana yang berlokasi di Banjar Langgahan Barat, Desa Langgahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, pada Senin (06/04/2026).

Peresmian vihara pertama di Kabupaten Bangli ini dihadiri oleh Bhikkhu Sa?gha, Para Pinandita/Pandita, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI yang diwakili oleh Nyoman Suriadarma selaku Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali I Gusti Made (IGM) Sunartha, jajaran Forkopimda, tokoh lintas agama, serta pemuda umat Buddha.

Ketua Panitia, Putu Mudiarta, dalam laporannya menyampaikan bahwa Vihara Dhamma Ratana merupakan hasil perjuangan panjang umat Buddha lintas generasi yang dilandasi semangat persatuan dan ketekunan.

“Vihara ini adalah yang pertama di Kabupaten Bangli, yang akan melayani sekitar 750 umat Buddha, tidak hanya di Bangli tetapi juga hingga wilayah Payangan, Gianyar. Pembangunannya dimulai sejak tahun 2023 dan rampung pada 2026 dengan total biaya mencapai Rp2,2 miliar dari bantuan pemerintah dan donasi umat,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar bangunan fisik, keberadaan vihara ini menjadi simbol kuat moderasi beragama dan harmoni lintas budaya. Hal tersebut tercermin dari perpaduan arsitektur Bali dan Tionghoa serta keterlibatan berbagai elemen lintas agama dalam proses pembangunannya.

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, IGM Sunartha, menegaskan bahwa peresmian vihara ini memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam.

“Peresmian vihara ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi simbol perjalanan panjang sejarah harmoni kehidupan beragama di Bali, khususnya di Bangli. Sejak masa lalu, interaksi ajaran Siwa dan Buddha telah melahirkan akulturasi budaya yang kuat dan menjadi bukti nyata moderasi beragama,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Bangli memiliki posisi strategis sebagai pusat awal peradaban Bali, sehingga layak dijadikan ikon moderasi beragama di tingkat nasional.

“Bangli memiliki kekuatan besar dalam kehidupan masyarakat yang harmonis, saling menghormati, dan gotong royong lintas umat. Ini harus terus dijaga dan dikembangkan,” imbuhnya.

Dalam konteks kekinian, IGM Sunartha juga melihat potensi vihara ini sebagai bagian dari pengembangan wisata spiritual yang akan memperkuat identitas Bangli.

“Saya memandang vihara ini ke depan tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata spiritual,” katanya.

Sementara itu, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta menyoroti kuatnya akar sejarah akulturasi budaya di Bangli yang telah berlangsung sejak masa Bali Kuno, termasuk pada era pemerintahan Sri Aji Jaya Pangus yang menikah dengan putri Tiongkok, Kang Cing Wie.

“Perpaduan budaya Bali dan Tiongkok telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga saat ini. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kita semua bersaudara,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengembalikan kejayaan Bangli sebagai pusat pendidikan, kesehatan, dan spiritual.

“Ke depan, Bangli kita arahkan menjadi pusat pendidikan, pusat kesehatan, dan pusat spiritual. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai generasi penerus,” tegasnya.

Di sisi lain, Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha, Nyoman Suriadarma, yang mewakili Dirjen Bimas Buddha, menekankan pentingnya optimalisasi fungsi vihara, baik secara sosial maupun spiritual.

“Vihara memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai ruang sosial untuk mempererat kebersamaan dan sebagai ruang spiritual untuk memperdalam keyakinan. Dengan suasana yang tenang dan sejuk, tempat ini sangat ideal untuk meditasi,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga dan merawat vihara serta melanjutkan pembangunan fasilitas pendukung seperti gapura, pagar, dan kuti bagi para Bhikkhu.

“Vihara ini harus terbuka untuk semua, untuk seluruh umat manusia dan kemanusiaan. Sinergi antara pemerintah, umat, dan para donatur sangat diperlukan untuk penyempurnaan ke depan,” tambahnya.

Peresmian Vihara Dhamma Ratana ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti sebagai simbol dimulainya pemanfaatan vihara secara resmi.

Dengan kehadiran vihara ini, tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Buddha, tetapi juga diharapkan menjadi ruang pembinaan spiritual, pendidikan, serta penguatan kerukunan antarumat beragama. Lebih jauh, Vihara Dhamma Ratana menjadi pengingat bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun harmoni dan kedamaian bersama di Bali.(sn)


Login

Selamat Datang! Masuk ke akun Anda

Masuk dengan akun Google

Tidak punya akun? Daftar

Lupa kata kunci

Daftar